Nya mangga wae, sampai putus urat leher berteriak, orang tetap akan menganggap itu puisi pendek yang sulit dipahami, yang karena itu, bagaimana bisa sesuatu yang tidak argumentatif dan sulit dinikmati atau dipahami dapat menjadi solusi bagi masa depan?
Ya, salah satu slogan dari sekian slogan yang diajukan SP, bahwa pusainya membawa solusi bagi masa depan. Ada lucu-nya sih, ia yang baru bersentuhan dengan Meta AI, terkagum-kagum dan menngkampanyekan bahwa Meta AI lah yang bisa mengapresiasi puisinya.
Baca Juga: Kerugian kebakaran Los Angeles capai Rp4.000 triliun, apa alasan api susah dipadamkan?
Begitu dicari di Meta AI, jawabannya beragam, misalnya pusai adalah puisi yang dicetuskan penyair-penyair muda tahun 1970-an, yaitu oleh Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM.
Ketiga penyair ini memang pernah membuat puisi-puisi pendek, bahkan radikal, misalnya SCB menulis puisi berjudul ‘Kalian’ dengan isi hanya partikel: Pun, atau puisi Luka, isinya hanya partikel : Ha ha.
Pun dan Ha ha, menjadi kata pun belum, ia masih partikel, yang lebih kecil dari kata. Meski demikian, ketiga tokoh yang menulis puisi-puisi alit itu, tidak mencetuskan apapun, dan tidak berhalusinasi meraih Nobel.
Tetapi kita, minimal saya, membutuhkan dua orang pengaku pencetus ragam baru itu, buat hiburan dan ketawa-ketawaan sih. Hidup tanpa ketawa, kata Nabi Nuh, kau bisa mati di bahtera yang hanya bisa pasrah-semurah di samudra raya. Peun!
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat