Boleh dikata, semua tarikan nafasnya dimaksimalkan mengalir zikir dan doa untuk lebih mendekatkan hati pada Rabb yang kuasa.
Perbaikan diri harus dilanjutkan dengan perbaikan umat. Sebagai Muslim, kita diajarkan untuk peduli kepada Muslim lainnya sebagai bentuk ukhuwah islamiyah, sekaligus kita diajarkan untuk peduli pada selain umat Islam dalam kerangka ukhuwah basyariyah.
Kehendak untuk perbaikan itu dijelaskan kitab suci bahwa apa yang kita inginkan dari perbaikan umat semata-mata adalah ishlah atau perbaikan.
Kehadiran kolektivitas sosial seperti ormas NU dan Muhammadiyah adalah konsekuensi dari kecintaan terhadap ilmu, semangat untuk perbaikan diri dan perbaikan umat.
Dalam kata NU melekat kata ‘ulama’ yang berarti ‘orang yang berilmu’ atau ‘kebangkitan ulama/orang yang berilmu’.
Dalam kata ‘Muhammadiyah’ juga melekat soal ilmu dan tanggungjawab sebagai pengikut sang Nabi terakhir yang mengajarkan kata iqra’ (membaca) serta perlunya pembelaan terhadap mustadh’afin atau kaum yang lemah.
Cinta ilmu, perbaikan diri dan perbaikan umat tercermin dalam dua kolektivitas besar pada dekade kedua dan ketiga abad ke-20 tersebut.
Dari tiga hal di atas, mungkin boleh kita merenung. Bagaimanakah kita dałam tradisi mencintai ilmu tersebut.
Minat tiap orang beda-beda, akan tetapi beberapa penguasa yang tidak sempat atau tidak bisa mengajar, memilih untuk mendukung para ilmuwan dalam berbagai hal.
Di sini ada kolaborasi antara penguasa dan ilmuwan sesuai kapasitasnya masing-masing. Tak bisa satu hal bukan berarti tidak bisa pada semua hal.
Ada wilayah-wilayah dimana kita bisa berkontribusi, walau tidak harus terlihat, walau tidak harus terdengar, walau tidak harus yang besar-besar.
Sebuah film kungfu yang lawas menceritakan bagaimana seorang guru kungfu yang didukung oleh seorang hartawan.