Nah dalam hal ini sering kali pelanggan keberatan. Padahal, sama saja aturan ini seperti PLN maupun jaringan gas.
Tapi seringkali situasinya berbeda. Pelanggan listrik lebih patuh mungkin karena tidak bisa bikin listrik sendiri.
Tapi pelanggan air tidak demikian, apalagi jika dia punya sumber air lainnya, pompa, sumur atau Pamsimas. Daripada bayar malah mempersilahkan petugas untuk mencabutnya.
Banyak juga yang marah-marah. Lapor sana-sini. Nulis status di medsos dan berbagai cara. Ya memang begitu eranya sekarang. Saya hanya minta petugas tetap sabar dan lakukan saja sesuai aturan.
Tapi untungnya, masih lebih banyak juga yang patuh. Buktinya, setiap bulan efektivitas dan efesiensi pembayaran selalu di atas 70 persen.
Tapi memang kami punya PR serius, tunggakan pelanggan cenderung naik setiap bulan, setiap tahun. Jika yang nunggak langsung diputus, pelanggan bisa berkurang drastis. Tapi jika tidak diputus, air mengalir, tidak dibayar.
Padahal air lebih baik didistribusikan ke pelanggan yang benar-benar butuh air dan tertib membayar. Tidak terbuang sia-sia. Inilah PR PDAM di seluruh Indonesia.
Jika ada ide dari Anda untuk solusi masalah tersebut, kami dengan senang hati terbuka untuk diskusi. Bisa jadi ide Anda lebih bagus.
Kami akan fokus pikirkan solusinya di tahun 2025. Di antara upaya yang akan kami lakukan tahun depan, pelanggan akan mendapat notifikasi tagihan air ke email dan nomor WA. Solusi lainnya masih akan dikaji.
Tapi kami pun harus introspeksi. Jangan sampai pelanggan tidak puas. Akibat persoalan seperti air keruh, air tidak lancar, air mengalir kecil atau terlalu sering terhenti karena ada perbaikan.
Kami pun lakukan pemetaan. Semakin sering hal itu terjadi, semakin rendah efektivitas pembayaran.
Khususnya untuk menangani kebocoran, kami sudah membentuk tim penanggulangan non revenue water (NRW) yang terdiri dari 6 orang. Mereka bertugas khusus mengatasi wilayah dengan tingkat kebocoran tinggi.