Selain itu, guru diharapkan tidak terlalu terpaku kepada dokumen kurikulum.
Baca Juga: 6 Tips merawat pot bunga di halaman rumah agar tetap hidup dan memikat
Tidak memandang dokumen kurikulum seperti kitab suci yang sama sekali tidak boleh dikritisi atau dianalisis lebih lanjut.
Mereka diharapkan dapat berimprovisasi, bersikap out of the box, menyesuaikan materi pelajaran, strategi pembelajaran dan cara menilai hasil menilai hasil belajar peserta didik dengan konteks lingkungan, latar belakang, dan kebutuhan peserta didik.
Inilah sejatinya kurikulum yang memberdayakan guru. Guru yang berdaya akan mampu melaksanakan dan mengembangkan pembelajaran dengan baik. Mengajar penuh dengan suka cita dan penuh kepercayaan diri.
Baginya, mengajar di kelas bukan hanya sekadar menyampaikan materi, tetapi juga sebuah show yang menghibur dan menyenangkan baik bagi dirinya maupun bagi para peserta didiknya.
Baca Juga: 5 Tips menulis buku cerita menarik bagi anak-anak
Guru yang berani tampil beda jangan dianggap sebagai bentuk penolakan dan pembangkangan terhadap pakem yang ada.
Justru mereka adalah tipe guru yang tidak ingin tampil biasa-biasa saja. Mereka memiliki otonomi sendiri dalam mengajar.
Sepanjang penampilan bedanya tersebut membuat pembelajaran menjadi lebih efektif, guru perlu diberikan kesempatan untuk terus mengembangkan ide-ide baru.
Dengan demikian, dia akan memberikan warna-warna baru dalam pembelajaran.
Idris Apandi, Praktisi Pendidikan