Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang berdampak terhadap peserta didik.
Baca Juga: 6 Tips menarik investor untuk berinvestasi di daerah, pilar penting pembangunan ekonomi lokal
Pengetahuan bukan untuk dihapal, tetapi untuk dipahami dan dipraktikkan dalam kehidupan.
Oleh karena itu, proses pembelajaran harus memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik.
Pembelajaran kontekstual, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran menyibak (inquiry) dan menemukan (discovery), atau pembelajaran berbasis proyek bisa menjadi alternatif bagi guru untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik.
Pembelajaran disebut menyenangkan jika ada partisipasi aktif dari peserta didik. Sedangkan pembelajaran disebut bermakna jika ada internalisasi nilai-nilai kebaikan dan berdampak terhadap peserta didik.
Baca Juga: Bagi kepala daerah, ini 7 tips menjaga iklim investasi agar tetap kondusif
Selain itu, tipe-tipe pembelajaran tersebut juga dapat membangun kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill).
Guru adalah ujung tombak pelaksanaan kurikulum. Sebaik apapun konsep kurikulum, kuncinya ada pada guru.
Jika guru mampu memahami dan mengimplementasikannya dengan baik, maka tujuan kurikulum akan tercapai.
Sebaliknya, jika guru kurang cakap dalam memahami dan mengimplementasikannya, maka tujuan kurikulum akan sulit tercapai.
Baca Juga: 7 Tips memelihara hubungan anggota keluarga agar tetap harmonis
Kurikulum bukan hanya sekadar tumpukan kertas dan menjadi dokumen mati. Kurikulum harus hidup dan dihidupkan oleh guru dalam proses pembelajaran.
Kurikulum Merdeka yang saat ini diimplementasikan oleh pemerintah membuka ruang bagi guru untuk menghidupkan kurikulum melalui pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
Pembelajaran berdiferensiasi atau pembelajaran yang disesuaikan dengan minat, kebutuhan, dan gaya belajar peserta didik adalah bentuk layanan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik.