esai

ESAI : Kurikulum yang memberdayakan

Jumat, 3 Mei 2024 | 17:17 WIB
Idris Apandi, Praktisi Pendidikan

Kurikulum secara konseptual adalah pedoman yang didalamnya mencakup kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, materi yang harus disampaikan untuk mencapai kompetensi, bagaimana cara mengajarkannya, dan bagaimana cara mengukur hasil belajar peserta didik. 

Secara teknis operasional, pihak yang melaksanakan dan mengembangkan kurikulum di satuan pendidikan adalah guru.  

Bahkan guru juga adalah sebagai kurikulum itu sendiri. Dengan kata lain, guru adalah kurikulum hidup (teacher as a living curriculum).

Kurikulum yang saat ini diimplementasikan oleh Kemendikbudristek adalah Kurikulum Merdeka yang diberlakukan secara nasional melalui Permendikbud Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Menengah. 

Baca Juga: Belajar bahan peledak komersil, 29 Siswa Dikbangspes Ba Yanmin Polri dari seluruh Polda di Indonesia kunjungi PT Dahana

Setiap pergantian kurikulum, semangat yang dihembuskan adalah semangat perubahan, peningkatan, atau perbaikan. 

Begitu pun dengan kurikulum merdeka sebagai upaya untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks dan dinamis serta menyiapkan generasi muda yang cerdas dan berkarakter. 

Visi Indonesia melahirkan generasi emas tahun 2025 yang bertepatan dengan 100 tahun Indonesia merdeka. 

Kurikulum pendidikan harus mampu menjadi jalan atau sarana untuk mewujudkan hal tersebut. 

Baca Juga: Hardiknas 2024, Dr. Imran sebut untuk wujudkan merdeka belajar diperlukan sarana prasarana yang baik dan minta guru jangan takut berekspresi

Masih rendahnya mutu literasi dan numerasi peserta didik harus mampu dijawab melalui pengembangan dan inovasi kurikulum yang secara operasional dijalankan oleh guru dalam pembelajaran yang bermutu. 

Perkembangan teknologi dan digitalisasi yang semakin pesat harus mampu dijawab juga melalui materi pelajaran yang membekali peserta didik dengan kemampuan mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi secara baik, beretika, dan bertanggung jawab. 

Kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) yang semakin banyak jenis dan modelnya disamping menjadi hal yang membantu juga rawan disalahgunakan untuk tindak kejahatan. 

Selain itu, AI membuat manusia menjadi semakin malas dan semakin ketergantungan. Dengan demikian, penguatan literasi digital perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pembelajaran.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB