Baca Juga: Cerita jemaah umrah Hanania Travel, diminta pelunasan seminggu setelah bayar DP: Kayak dikejar utang
Ia memberi kita kesempatan untuk menyusun kembali pikiran yang berantakan, merapikan emosi yang kusut, dan menemukan arah di tengah kebingungan.
'Dalam sunyi itu, kita justru lebih jujur, lebih utuh, dan lebih mengenal diri sendiri.'
Maka, kita menulis bukan karena kita selalu punya sesuatu yang besar untuk disampaikan, melainkan karena kita adalah manusia yang terus mencari makna.
Dan dalam pencarian itu, kata-kata menjadi teman setia yang membantu kita memahami dunia, dan yang lebih penting, memahami diri sendiri.
Yaya Suryana - Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta
Artikel Terkait
ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa