Generasi muda, yang tumbuh dalam lanskap budaya yang jauh berbeda dengan masa-masa awal kemerdekaan, mungkin merasa asing dengan narasi-narasi yang dianggap kaku dan tidak relevan dengan pengalaman hidup mereka.
Oleh karena itu, penting untuk terus-menerus merefleksikan dan mendekonstruksi narasi Kebangkitan Nasional.
Alih-alih terpaku pada fiksi politik yang homogen dan diksi kekuasaan yang hegemonik, perlu adanya ruang dialog yang inklusif untuk mengakomodasi beragam perspektif dan pengalaman.
Memperkuat identitas nasional dalam ekosistem kebudayaan yang rapuh memerlukan pengakuan atas pluralitas, penghargaan terhadap warisan budaya lokal, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.
Kebangkitan Nasional yang sejati tidak terletak pada pengulangan narasi masa lalu, melainkan pada kemampuan untuk membangun kesadaran kolektif yang inklusif, menghargai perbedaan, dan berorientasi pada masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan bagi seluruh warga bangsa.
Ini membutuhkan kejujuran dalam meninjau kembali sejarah, kepekaan terhadap dinamika kekuasaan, dan komitmen untuk merawat keragaman sebagai kekuatan bangsa, bukan sebagai ancaman bagi persatuan. Itu saja!
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Artikel Terkait
ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer
Ini 3 puisi karya sastrawan Indonesia bertema perjuangan untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional
Syahrir dan revolusi yang beradab: Menolak kekerasan, menjaga nurani
Kesunyian seorang pemikir: Ketika Syahrir ditinggalkan tapi tetap setia pada bangsa
ESAI: Kebangkitan nasional dan jalan panjang membangun Indonesia dari daerah