ESAI: Kebangkitan Nasional: Persimpangan fiksi, kekuasaan, dan identitas yang rentan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 20 Mei 2025 | 08:33 WIB
Gus Nas Jogja (kiri), Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Gus Nas Jogja (kiri), Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Gagasan tentang 'Kebangkitan Nasional' seringkali hadir sebagai narasi besar, sebuah fiksi politik yang dirancang untuk membangkitkan persatuan dan semangat kolektif.

Dalam konstruksi ini, sejarah diseleksi dan ditafsirkan sedemikian rupa untuk menonjolkan momen-momen heroisme, perjuangan bersama melawan penjajah, dan cita-cita luhur bangsa.

Tokoh-tokoh masa lalu didudukkan sebagai pahlawan simbolik, dan peristiwa-peristiwa penting dibingkai dalam kerangka kemajuan linier menuju kemerdekaan dan kejayaan.

Fiksi ini menjadi landasan ideologis bagi pembentukan negara-bangsa, memberikan legitimasi bagi kekuasaan yang berdaulat.

Baca Juga: ESAI: Kebangkitan nasional dan jalan panjang membangun Indonesia dari daerah

Namun, narasi Kebangkitan Nasional juga tak terlepas dari diksi kekuasaan. Bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan dan merayakan kebangkitan ini seringkali sarat dengan kepentingan politik tertentu.

Istilah-istilah seperti 'persatuan,' 'kesatuan,' 'nasionalisme,' dan 'cinta tanah air' dapat dimanipulasi dan digunakan untuk memobilisasi massa, mengonsolidasikan kekuasaan, atau bahkan menyingkirkan kelompok-kelompok yang dianggap 'tidak nasionalis' atau mengancam stabilitas.

Retorika yang kuat dan simbol-simbol nasional menjadi alat untuk menanamkan rasa memiliki dan loyalitas, namun juga berpotensi untuk menutupi keragaman dan perbedaan yang ada dalam masyarakat.

Baca Juga: Kesunyian seorang pemikir: Ketika Syahrir ditinggalkan tapi tetap setia pada bangsa

Dalam konteks ekosistem kebudayaan yang dinamis dan beragam, narasi tunggal tentang identitas nasional yang dibangun melalui fiksi politik dan diksi kekuasaan seringkali berbenturan dengan realitas rapuhnya identitas nasional.

Identitas bukanlah sesuatu yang monolitik dan statis, melainkan fluid dan terus-menerus dinegosiasikan dalam interaksi antar berbagai kelompok etnis, agama, bahasa, dan budaya.

Globalisasi, arus informasi yang deras, dan perkembangan teknologi digital semakin mempercepat fragmentasi dan hibridisasi identitas.

Narasi Kebangkitan Nasional yang terlalu menekankan pada keseragaman dan kejayaan masa lalu dapat mengabaikan atau bahkan menindas ekspresi identitas lokal dan minoritas. Hal ini dapat memicu resistensi, konflik, dan erosi rasa kebersamaan yang justru ingin dibangun.

Baca Juga: Syahrir dan revolusi yang beradab: Menolak kekerasan, menjaga nurani

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X