ESAI: Kebangkitan nasional dan jalan panjang membangun Indonesia dari daerah

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Selasa, 20 Mei 2025 | 07:30 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

20 Mei bukan sekadar tanggal dalam kalender sejarah. Ia adalah simbol bangkitnya kesadaran kolektif anak bangsa bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang mengusir penjajah, tetapi juga tentang menciptakan kehidupan yang lebih adil, cerdas, dan beradab.

Lahirnya Boedi Oetomo pada 1908 menjadi tonggak awal gerakan kebangkitan nasional, sebuah momen di mana bangsa ini mulai menata dirinya melalui pendidikan, organisasi, dan kerja-kerja kebudayaan.

Hari ini, lebih dari seabad kemudian, pertanyaannya berubah: Apakah kita sungguh telah bangkit? Dan bangkit untuk siapa?

Baca Juga: Kesunyian seorang pemikir: Ketika Syahrir ditinggalkan tapi tetap setia pada bangsa

Secara nasional, Indonesia menghadapi tantangan kebangsaan yang tak kalah berat dibanding masa penjajahan.

Ketimpangan ekonomi masih nyata. Polarisasi politik makin tajam. Korupsi menyusup ke berbagai lini.

Sementara ruang dialog yang sehat makin sempit, digantikan oleh serbuan informasi yang cepat tapi dangkal.

Di sinilah semangat kebangkitan nasional harus didefinisikan ulang: bukan hanya sebagai seremoni tahunan, tapi sebagai kesadaran untuk berpikir kritis, berkata jujur, dan bertindak adil, di tengah kerumitan zaman.

Baca Juga: Syahrir dan revolusi yang beradab: Menolak kekerasan, menjaga nurani

Bagaimana dengan Subang?

Kabupaten ini menyimpan banyak potensi, mulai dari pertanian, pariwisata, hingga sumber daya manusia muda yang aktif di komunitas dan dunia digital.

Namun, tantangannya juga tak kecil. Pemerataan infrastruktur, akses pendidikan berkualitas, hingga perlindungan terhadap kebebasan berekspresi menjadi pekerjaan rumah yang terus berulang.

Beberapa waktu terakhir, perhatian publik tersita oleh kasus kekerasan terhadap jurnalis di Subang.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebebasan berbicara yang menjadi fondasi bangsa merdeka—belum sepenuhnya aman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X