Maka, kebangkitan di Subang mesti dimulai dari perlindungan atas nilai-nilai demokrasi, ruang partisipasi publik, serta penghormatan terhadap martabat setiap warga.
Kebangkitan bukan milik elit, bukan pula monopoli pusat. Ia lahir dari bawah: dari ruang-ruang belajar kecil, dari diskusi komunitas, dari kerja-kerja sunyi anak-anak muda yang tak menyerah pada keadaan. Dari desa, dari kampung, dari pinggiran.
Pesan Ki Hajar Dewantara masih relevan: “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”
Dan suara hati Syahrir masih terdengar lirih tapi tajam: “Revolusi kita adalah revolusi nilai.”
Baca Juga: Syahrini berpose dengan Angelina Jolie dan Halle Berry di Cannes, sindir halus warganet?
Maka, mari kita jaga bara kebangkitan ini. Subang, dan daerah-daerah lain, adalah bagian dari wajah Indonesia yang sesungguhnya. Dari sanalah masa depan akan tumbuh, lebih jujur, lebih manusiawi, lebih membumi.
Karena membangun Indonesia yang beradab harus dimulai dari keberanian untuk bangkit di tempat kita berpijak.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta
Artikel Terkait
ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani
Sinopsis buku Soe Hok Gie 'Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan'
Soe Hok Gie dan relevansi gerakan mahasiswa hari ini
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
Anak Semua Bangsa: Menjadi Indonesia, menjadi kemanusiaan
Ini 3 puisi karya sastrawan Indonesia bertema perjuangan untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional