ESAI: Kebangkitan nasional dan jalan panjang membangun Indonesia dari daerah

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Selasa, 20 Mei 2025 | 07:30 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Baca Juga: Ini 3 puisi karya sastrawan Indonesia bertema perjuangan untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional

Maka, kebangkitan di Subang mesti dimulai dari perlindungan atas nilai-nilai demokrasi, ruang partisipasi publik, serta penghormatan terhadap martabat setiap warga.

Kebangkitan bukan milik elit, bukan pula monopoli pusat. Ia lahir dari bawah: dari ruang-ruang belajar kecil, dari diskusi komunitas, dari kerja-kerja sunyi anak-anak muda yang tak menyerah pada keadaan. Dari desa, dari kampung, dari pinggiran.

Pesan Ki Hajar Dewantara masih relevan: “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” 

Dan suara hati Syahrir masih terdengar lirih tapi tajam: “Revolusi kita adalah revolusi nilai.”

Baca Juga: Syahrini berpose dengan Angelina Jolie dan Halle Berry di Cannes, sindir halus warganet?

Maka, mari kita jaga bara kebangkitan ini. Subang, dan daerah-daerah lain, adalah bagian dari wajah Indonesia yang sesungguhnya. Dari sanalah masa depan akan tumbuh, lebih jujur, lebih manusiawi, lebih membumi.

Karena membangun Indonesia yang beradab harus dimulai dari keberanian untuk bangkit di tempat kita berpijak.

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X