ESAI: Seni sebagai investasi: Jalan menuju ketajaman makna

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 14 Mei 2025 | 14:47 WIB
Ilustrasi - Karya seni
Ilustrasi - Karya seni

Baca Juga: Cerita Richard Lee ditipu bayar Rp10 juta ke Aldy Maldini, pernah ditagih balik namun berkelit

Seni, yang seharusnya menjadi ruang kontemplatif, justru sering dipinggirkan karena dianggap tidak ‘produktif’.

Padahal, sebagaimana ditulis oleh Friedrich Schiller, “Hanya melalui seni, manusia bisa berdamai antara naluri dan rasio.”

Dan perdamaian itulah yang kita butuhkan hari ini, untuk melahirkan generasi yang tidak hanya kaya materi, tetapi juga bijak dalam menjalani hidup.

Kita perlu membuka ruang baru dalam diskursus ekonomi dan pendidikan: bahwa seni bukan barang mewah, melainkan kebutuhan.

Baca Juga: Kemenkes kembangkan AI untuk diagnosis dan terapi kanker, diklaim bisa bantu mengurangi biaya pengobatan pasien

Bahwa investasi bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang membangun dunia batin yang kuat.

Kita perlu menciptakan ekosistem di mana galeri seni setara pentingnya dengan bank, di mana studio seniman dihormati sebagaimana kantor CEO.

Bisakah karya seni menjadi investasi? Tentu. Tapi pertanyaan yang lebih penting adalah: bisakah kita menciptakan masyarakat yang mengerti nilai dari karya seni itu?

Masyarakat yang tidak hanya membeli seni, tapi memahami mengapa ia penting.

Di sinilah letak tugas kita semua—khususnya generasi muda—untuk menumbuhkan kepekaan, memperluas wawasan, dan mengasah kemampuan diri agar bisa menjadi bagian dari ekosistem kreatif masa depan.

Baca Juga: PPIH siapkan bus shalawat yang beroperasi 24 jam dan punya 27 rute, layani transportasi jemaah haji Indonesia dari hotel ke Masjidil Haram

Karena pada akhirnya, seni bukan sekadar objek untuk dikoleksi, tapi jendela untuk melihat dunia dan cermin untuk mengenali diri.

Dan mungkin, justru dalam usaha memahami seni sebagai investasi, kita akan menemukan makna terdalam dari apa artinya menjadi manusia yang utuh.

Apakah kekayaan sejati bisa diukur dari jumlah aset, atau justru dari kemampuan kita memahami dan menciptakan keindahan di tengah dunia yang kian mekanistik?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X