ESAI: Seni sebagai investasi: Jalan menuju ketajaman makna

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 14 Mei 2025 | 14:47 WIB
Ilustrasi - Karya seni
Ilustrasi - Karya seni

Ada satu pertanyaan yang sudah lama bergema dalam lorong-lorong sunyi pikiran manusia modern: bisakah karya seni menjadi investasi?

Di tengah dunia yang semakin terobsesi dengan angka, pasar, dan efisiensi, karya seni muncul sebagai paradoks yang memikat.

Ia tidak berbicara dalam kurva laba atau fluktuasi pasar, tetapi dalam bisikan halus estetika dan imajinasi.

Namun justru karena itulah, seni menyimpan potensi menjadi bentuk investasi paling abadi, bahkan melampaui properti fisik yang bisa lapuk oleh zaman.

Baca Juga: Dari maggot hingga TPS 3R: Gerakan akar rumput Subang mengubah sampah jadi solusi

Jean Baudrillard pernah menulis, “Seni adalah cermin yang tidak memantulkan dunia, tetapi menciptakannya kembali.”

Dan dalam dunia kapital hari ini, cermin tersebut bisa menjadi pintu masuk menuju kekayaan yang tak hanya bersifat finansial, tapi juga spiritual dan intelektual.

Memiliki karya seni bukan sekadar memiliki objek indah di dinding, melainkan memiliki sejarah, identitas, bahkan ideologi yang bisa melintasi generasi.

Bukanlah rahasia bahwa bisnis kolektor seni dapat menjadikan seseorang kaya raya.

Baca Juga: Pengakuan Richard Lee soal skandal endorse Aldy Maldini: Tak dilaporkan, ikhlaskan Rp10 juta

Nama-nama seperti Charles Saatchi, François Pinault, hingga kolektor muda di Asia Tenggara telah menunjukkan bahwa karya seni bisa menjadi instrumen akumulasi nilai yang menyaingi pasar saham.

Harga sebuah lukisan karya Affandi atau Raden Saleh hari ini bisa menembus angka miliaran rupiah.

Bahkan karya seniman kontemporer seperti Eko Nugroho, Heri Dono, dan Entang Wiharso mulai meraih pengakuan di pasar global.

Ini bukan kebetulan, melainkan pertanda bahwa seni Indonesia tengah memasuki babak baru sebagai aset properti yang bernilai tinggi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB

ESAI: Subang, laboratorium perjuangan Marhaenisme

Rabu, 24 September 2025 | 23:59 WIB

ESAI: Jakarta, ojol, dan bayangan kehilangan

Jumat, 29 Agustus 2025 | 19:23 WIB
X