ESAI : Hari Buruh dan realitas kelas pekerja di abad 21

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Kamis, 1 Mei 2025 | 16:25 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Baca Juga: Bantah Paula Verhoeven mengidap penyakit kronis seperti yang dituduhkan Baim Wong, sahabat Paula: Berlebihan

Revolusi industri 4.0 yang digadang-gadang membawa kemajuan, nyatanya juga menyisakan jurang ketimpangan baru.

Sementara segelintir pihak diuntungkan dengan efisiensi dan otomasi, jutaan pekerja kehilangan pekerjaan atau terjebak dalam ekonomi digital yang penuh ketidakpastian.

Ironisnya, hak-hak dasar seperti cuti, jam kerja wajar, dan perlindungan jaminan sosial masih menjadi barang mewah bagi banyak pekerja hari ini.

Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa tak ada hak yang diberikan begitu saja. Semua diraih lewat perjuangan.

Baca Juga: Viral Paula Verhoeven merasa disudutkan, Hotman Paris soroti putusan cerai sang artis dengan Baim Wong

Maka Hari Buruh adalah hari untuk mengingat bahwa di balik setiap jembatan, gedung, aplikasi, dan layanan publik—ada kerja manusia yang sering kali tidak terlihat, tidak dihargai, bahkan dilupakan.

Kita perlu lebih dari sekadar peringatan. Kita butuh kebijakan publik yang berpihak, penegakan hukum ketenagakerjaan yang tegas, dan budaya politik yang menghargai kerja, bukan sekadar kapital.

Buruh bukan mesin. Mereka adalah manusia yang pantas mendapat penghidupan layak, pendidikan, kesehatan, dan masa depan.

Dalam kata-kata Rosa Luxemburg: "Buruh bukan hanya penggerak ekonomi, tapi denyut nadi demokrasi." Maka selama masih ada ketimpangan, selama masih ada pekerja yang tertindas, perjuangan belum selesai.

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X