ESAI : Hari Buruh dan realitas kelas pekerja di abad 21

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Kamis, 1 Mei 2025 | 16:25 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

 

Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional—sebuah peringatan yang tidak lahir dari kekosongan, melainkan dari perjuangan berdarah di akhir abad ke-19, ketika para pekerja di Chicago, Amerika Serikat, menuntut hak dasar yang kini kita anggap wajar: delapan jam kerja sehari.

Aksi protes besar yang memuncak pada tragedi Haymarket tahun 1886 itu menjadi titik balik gerakan buruh global, dan dikenang sebagai simbol perlawanan kelas pekerja terhadap eksploitasi yang brutal dalam sistem industri kapitalis.

Sejak saat itu, 1 Mei tidak hanya menjadi momentum solidaritas global antarburuh, tetapi juga cermin perjalanan panjang relasi antara tenaga kerja dan kekuasaan ekonomi-politik.

Baca Juga: Hotman Paris bongkar fakta baru bahwa pria yang diduga selingkuhan Paula Verhoeven memang diminta Baim Wong menginap di rumahnya

Karl Marx pernah menulis bahwa sejarah semua masyarakat hingga kini adalah sejarah perjuangan kelas.

Konsep ini menjadi landasan utama dalam memahami posisi buruh dalam struktur masyarakat modern: sebagai kelompok yang menjual tenaga demi bertahan hidup, dalam sistem yang keuntungannya banyak ditentukan oleh seberapa besar nilai lebih (surplus value) yang bisa diekstraksi dari kerja mereka.

Di Indonesia, peringatan Hari Buruh juga menyimpan catatan sejarah tersendiri.

Dulu sempat menjadi hari libur resmi sejak era kolonial Belanda, kemudian dilarang pada masa Orde Baru karena dianggap subversif, dan baru kembali diakui sebagai hari libur nasional pada 2013.

Baca Juga: Imbas kasus liburan tanpa izin, Lucky Hakim diminta naik transportasi umum selama magang di Kemendagri

Sejarah ini mencerminkan ketegangan terus-menerus antara pengakuan negara terhadap hak pekerja dan kecenderungan negara untuk berpihak pada stabilitas ekonomi—yang tak jarang justru mengorbankan keadilan sosial.

Dalam konteks hari ini, tantangan yang dihadapi buruh tidak hanya datang dari pabrik atau ladang. Dunia kerja kini bergeser ke arah yang semakin fleksibel dan tidak pasti.

Konsep 'precariat' yang diperkenalkan oleh Guy Standing, misalnya, menggambarkan munculnya kelas pekerja baru yang hidup tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian kerja, dan tanpa representasi politik yang kuat.

Ini terjadi di mana-mana, termasuk di Kabupaten Subang, di mana ribuan buruh pabrik, buruh tani, pekerja informal, hingga pengemudi ojek daring masih bergulat dengan masalah upah, jaminan kerja, dan masa depan yang yang tidak pasti.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X