Maka jika hari ini kita bertanya: di mana Gie dalam zaman kita? Jawabannya mungkin ada dalam keberanian untuk tetap berpikir jernih, mencintai ilmu, bersikap adil, dan berpuisi dalam diam—dengan harapan bahwa dunia bisa sedikit lebih baik, walau kita tak sempat melihat hasilnya.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta
Artikel Terkait
Dikenal sebagai aktivis produktif dan pendiri Mapala UI, ini lima puisi Soe Hok Gie yang inspiratif bagi dunia pergerakan
Penyair Wiji Thukul dan tujuh puisi perlawanan terhadap ketidakadilan
10 Puisi karya Sapardi Djoko Damono, salah satunya 'Yang fana adalah waktu'
Penyair Wiji Thukul, aktivis perlawanan yang dihilangkan karena puisi
Sinopsis buku Soe Hok Gie 'Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan'
Zaman Peralihan, merenung karya Soe Hok Gie dalam gelombang perubahan
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie