ESAI: Musik di Madiun: Antara identitas, eksistensi, dan kepercayaan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 24 April 2025 | 12:54 WIB
Ilustrasi - Seorang musisi dan patung Merlion saling beradu nada di tepion kota, menyuarakan bagaimana identitas bisa melampaui batas geografis
Ilustrasi - Seorang musisi dan patung Merlion saling beradu nada di tepion kota, menyuarakan bagaimana identitas bisa melampaui batas geografis

Baca Juga: Kesaksian warga Bekasi cium bau gas, PGN pastikan tak ada kebocoran pipa: Sudah tidak tercium

Jika Madiun ingin membangun iklim musikal yang sehat, maka ia harus memulai dari moralitas: kejujuran dalam penilaian, keterbukaan dalam apresiasi, dan kepercayaan pada potensi lokal.

Ketika musisi bisa bermusik tanpa dibebani ketakutan akan diskriminasi, ketika sekolah musik bisa tumbuh tanpa harus tunduk pada selera pasar semata, ketika sound system dan studio rekaman lokal bisa menjadi bagian dari ekosistem berkelanjutan, saat itulah musik di Madiun tak hanya menjadi hiburan—melainkan peradaban.

Akhirnya, kita mesti bertanya dengan lebih reflektif: apakah musik di kota ini sekadar ajang perlombaan, ataukah ia bisa menjadi nadi kehidupan sosial yang mempersatukan?

Apakah kita masih memandang genre sebagai kasta, ataukah kita siap membuka telinga dan hati terhadap semua warna nada yang mungkin selama ini terpinggirkan?

Baca Juga: Tuntut tunggakan pembayaran, pengacara mitra dapur MBG Kalibata justru ungkap terima tagihan Rp400 juta dari Yayasan MBN

Dan, di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, bisakah musik menjadi satu-satunya bahasa yang menyatukan, bukan memisahkan.

Karena pada akhirnya, suara-suara itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu, tempat, dan keberanian untuk didengar kembali. 

Fileski Walidha Tanjung, seorang penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai, dan prosa di berbagai media nasional

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X