ESAI: Musik di Madiun: Antara identitas, eksistensi, dan kepercayaan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 24 April 2025 | 12:54 WIB
Ilustrasi - Seorang musisi dan patung Merlion saling beradu nada di tepion kota, menyuarakan bagaimana identitas bisa melampaui batas geografis
Ilustrasi - Seorang musisi dan patung Merlion saling beradu nada di tepion kota, menyuarakan bagaimana identitas bisa melampaui batas geografis

Baca Juga: Proses hukum tetap berjalan, mitra dapur MBG Kalibata tetap lanjutkan laporan polisi pada Yayasan MBN: Tindak tegas, tidak ada damai

Ketika perbedaan ini tidak diurai dengan dialog terbuka, band hanya menjadi kendaraan sementara, bukan rumah yang bisa tumbuh bersama.

Ini adalah ironi yang mengingatkan kita pada pemikiran Jean-Paul Sartre: kebebasan manusia adalah beban, dan dalam seni, kebebasan itu bisa saling menindas jika tak disertai tanggung jawab eksistensial.

Pemerintah Kota Madiun sejatinya punya visi yang mulia ketika menghadirkan Pahlawan Street Centre (PSC).

Dengan wajah arsitektural yang modern, PSC dibayangkan menjadi panggung urban yang menyatu dengan denyut kehidupan warganya.

Baca Juga: Tuntut tunggakan pembayaran, pengacara mitra dapur MBG Kalibata justru ungkap terima tagihan Rp400 juta dari Yayasan MBN

Di sana, musik jalanan bisa tumbuh seperti yang kita lihat di kota-kota seni dunia—Paris dan New York. Namun, kenyataan berkata lain.

Musisi lokal yang mencoba mengisi ruang publik justru digeser, mungkin dinilai tak layak tampil, mungkin terhambat persoalan perizinan, atau ketentuan estetika yang kabur.

Padahal, seperti kata Jacques Rancière dalam The Politics of Aesthetics, ruang seni adalah medan persepsi: siapa yang boleh bersuara, dan siapa yang hanya menjadi penonton dalam kota yang mereka huni sendiri.

Dalam suatu diskusi ada kalimat dari salah seorang musisi asli Madiun yang saya tangkap, ia mengatakan, “Mengapa musisi yang menjajakan karya tanpa meninggalkan residu sampah harus hengkang, sementara pedagang asongan yang menyisakan limbah plastik dibiarkan hadir? Musik, yang tak kasat mata tapi bisa menggugah jiwa, justru dianggap lebih mengganggu dibanding aroma makanan yang belum tentu higienis. Ini bukan semata soal kebijakan, melainkan cermin dari krisis kepercayaan pada musisi lokal. Sebuah kota yang tidak percaya pada senimannya sendiri, akan kesulitan melahirkan peradaban budaya yang otentik.”

Baca Juga: Buntut kasus pembakaran mobil polisi, Dedi Mulyadi bakal panggil ormas se-Jabar demi cegah premanisme

Tapi Madiun masih memiliki harapan. Ia tinggal menumbuhkan ruang perjumpaan yang sehat antara ide-ide.

Perlu sering diadakan forum diskusi, panggung terbuka, residensi seni, dan lokakarya lintas genre yang mempertemukan perbedaan tanpa ambisi dominasi.

Dalam atmosfer ini, perbedaan bukan alasan untuk membentengi diri, tetapi jembatan untuk menemukan formula baru dalam bermusik dan berkesenian.

Musik, sebagaimana dikatakan Nietzsche, adalah “hasrat terdalam dari kehendak hidup”. Ia bukan hanya tentang bunyi, melainkan tentang keberanian untuk hidup otentik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X