ESAI: Membaca ulang surat-surat Kartini di bawah tumpukan kebaya

photo author
- Senin, 21 April 2025 | 15:03 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Surat yang tak pernah dimakamkan

Aku dilahirkan dari mata yang tak pernah tidur
pada malam-malam di mana sunyi mencekam
Tinta yang membawaku lahir,
dari rahim seorang wanita yang tak memiliki mimbar
yang berteriak, memekik, bersuara lewat kertas-kertas.

Baca Juga: Pelecehan seksual yang dilakukan dokter kembali terjadi, korban diduga difoto saat setengah telanjang

Aku bukan surat cinta.
aku menyapa dengan bara yang dirajut halus
oleh gadis Jepara bersanggul kata-kata.
Di tubuhku, kau bisa temukan luka yang dijilid
dan logika yang dipaksa tunduk pada penindasan.

Gurunya memberinya angka-angka kerdil
tapi pikirannya terus menjulang,
lebih tinggi dari menara yang dibangun penjajah.
Ia tidak minta dihormati,
ia hanya ingin bertanya:
“Mengapa akal sehat harus jongkok di hadapan status sosial?”

Aku menangis dalam amplop.
Bukan karena sedih, tapi karena tahu:
ada perlawanan yang begitu sunyi,
mengguncang kekuasaan yang rakus.

Baca Juga: Dilecehkan oleh dokter saat rawat inap sendiri di RS Swasta Malang, korban lakukan tindakan tegas

Aku menyaksikannya menulis dengan bahasa luka,
mengirimku ke dunia yang tidak siap membaca perempuan.
Sebagai manusia, ia mati muda,
dibalsem dengan kata “pahlawan”
dan dikubur dengan kebaya,
dirias agar pantas diceritakan pada anak-anak..
Padahal ia belum selesai bersuara,
ia bukan sekadar foto pajangan di dinding,
ia adalah senjata.

Sekarang aku terdampar di perpustakaan yang sunyi,
dikerubungi debu dan upacara seremonial.
Anak-anak menari di atas tulang kata-kata,
tapi tak satupun membacaku dengan mata terbuka.

Baca Juga: Diduga lakukan kekerasan pada pemain sirkus, Taman Safari Indonesia mengaku tidak ada keterlibatan

Dengarlah, generasi yang sibuk menggulung rambut,
yang berhias rapi di pagi perayaan:
Aku, surat yang ditulis oleh tangan yang membara,
oleh ia yang masih hidup dalam jiwa.
Aku belum pensiun dari perang.
Aku menunggu untuk dibaca.

Dan jika kau benar-benar ingin merayakan Kartini—
jangan hanya memakai kebaya.
Pakai juga keberaniannya
Bukalah aku.
Bacalah aku.
Lantangkan suaraku.

21 April 2025

Fileski Walidha Tanjung, penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, cerpen, di berbagai media nasional

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X