ESAI: Membaca ulang surat-surat Kartini di bawah tumpukan kebaya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 21 April 2025 | 15:03 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Ia adalah korban dari sistem, tetapi kita hanya mengenalnya sebagai pahlawan. Kita terlalu sering menghargai pahlawan, tetapi tidak cukup menghargai mereka yang menjadi korban.

Baca Juga: Jika benar ijazah Jokowi palsu, apakah seluruh kebijakannya semasa menjabat dibatalkan? ini kata Mahfud MD

Padahal, dalam tubuh korban seringkali tersembunyi bibit-bibit perlawanan yang paling murni—karena mereka tidak meminta panggung, hanya meminta keadilan. Dan pada akhirnya, tak ada yang salah dengan mengenakan kebaya.

Tak perlu merasa bersalah ketika anak-anak perempuan tersenyum dalam balutan kain tradisional, berias, berfoto, atau ikut lomba merangkai bunga.

Semua itu bisa menjadi bentuk apresiasi budaya, selama tidak berhenti hanya di sana. Kartini bukan hanya tentang estetika.

Ia tentang etika berpikir, tentang keberanian menulis, tentang kegigihan melawan ketimpangan sosial yang bahkan berasal dari lingkungan terdekatnya sendiri.

Baca Juga: Korban pelecehan seksual mencapai ratusan, dokter Iril mengincar ibu hamil trimester 2 dan 3

Hari Kartini seharusnya menjadi ruang kontemplasi, bukan hanya perayaan seremonial. Kita boleh menghias rambut anak perempuan dengan sanggul, tapi jangan lupa juga menyisipkan surat Kartini di tangan mereka.

Kita boleh merayakan keanggunan luar, tapi jangan melupakan kegelisahan dalam yang membuat Kartini menulis kalimat-kalimat tajam dan penuh pertanyaan: Mengapa perempuan hanya menjadi bayang-bayang laki-laki? Mengapa kebebasan hanya milik kaum bangsawan dan penjajah?

Kartini tidak menulis untuk dikenang. Ia menulis untuk didengar. Maka, jika benar kita ingin menghormatinya, jangan hanya mengenakan kebaya, kenakan pula keberaniannya.

Jangan hanya menata sanggul, tata pula cara kita mendidik dan memandang perempuan. Sebab setiap zaman punya bentuk penindasannya sendiri—dan setiap zaman pula membutuhkan suara yang berani menggugatnya.

Baca Juga: Cerita korban dugaan kekerasan eks pemain sirkus Taman Safari: Kaki dirantai saat show tak bagus

Apakah kita hanya ingin menjadi generasi yang merayakan sosok Kartini, ataukah kita juga bersedia menjadi generasi yang membaca, memahami, dan meneruskan sikapnya.

Itulah pertanyaan yang seharusnya kita renungkan setiap 21 April—dan setiap hari setelahnya.

Berikut saya tulis puisi untuk mengenang perjuangan sosok Kartini:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X