ESAI: Siapa nama aslimu, kak?

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 16 April 2025 | 16:15 WIB
Ikhsan Risfandi dikenal dengan nama pena Irzi, Penulis Puisi
Ikhsan Risfandi dikenal dengan nama pena Irzi, Penulis Puisi

Ada satu pertanyaan yang lebih menggoda daripada 'Kapan nikah?' dan lebih tajam daripada 'Sudah vaksin booster keempat belum?' yaitu: 'Nama aslimu siapa sih?' 

Terutama kalau kamu penulis, penyair, kolumnis, atau tukang ngelamun yang doyan nulis puisi sedih lalu menandatanganinya dengan nama semacam La Luna Fatimah, Raden Peot, atau Crescentia Rimbakara.

Di zaman ketika semua orang bisa publish di media sosial dan tampil seakan-akan telah menerbitkan dua puluh buku, nama pena alias nom de plume bukan lagi sekadar identitas alternatif—ia adalah gaya hidup.

Baca Juga: Mutasi dan penghargaan warnai upacara di Polres Subang, Kapolres: Ini bagian dari penyegaran organisasi

Nama pena itu kayak selendang Nyi Roro Kidul: sekali dipakai, auramu bisa langsung berubah.

Misalnya, kamu bernama asli Darto Bin Slamet, tapi begitu kamu bikin akun puisi dan menulis sebagai Ezra Fadhil Laksmana, mendadak orang-orang menyangka kamu lulusan sastra dari Leuven dan doyan minum kopi sambil menerawang masa depan dari balkon berlumut.

Padahal kamu nulis puisi itu di konter pulsa sambil nyicil voucher data.

Dalam sejarah, penggunaan nama pena punya berbagai motif. Ada yang menyamar karena alasan politik, seperti George Orwell (nama asli: Eric Blair).

Baca Juga: Lisa Mariana layangkan somasi ke Ridwan Kamil: Saya tidak pernah berhubungan dengan laki-laki mana pun selain Pak RK

Ada juga yang ingin menjelajahi perspektif gender tanpa prasangka, seperti George Sand yang ternyata seorang perempuan bernama Amantine Lucile Aurore Dupin.

Di Indonesia, nama pena juga dipakai untuk menambah semangat literer, atau sekadar biar 'enggak ketahuan dosen pembimbing'.

Di sisi lain, ada penulis yang tak tahan dengan 'aura nama asli'-nya sendiri. Bayangkan menulis puisi patah hati paling mengharukan sedunia tapi harus menandatanganinya dengan nama 'Paidi'.

Atau kamu sudah bikin novel surealis absurd ala Kafka, tapi sampulnya bertuliskan 'Eman Supardan'.

Baca Juga: Akhirnya dapat kepastian, CPNS dan PPPK akan segera dapat NIP dan pengumuman pengangkatan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X