ESAI: Apabila guru tergantikan AI: Akankah kemanusiaan tetap bertahan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 22 Maret 2025 | 22:20 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Jika sejak awal emosi seseorang telah rusak akibat lingkungan yang toksik, maka AI tidak perlu menggantikan manusia—karena manusia itu sendiri sudah kehilangan maknanya sebagai manusia.

Baca Juga: LAZ Assyifa Peduli targetkan 30.741 penerima manfaat pada Ramadan 1446 H ini, hingga 20 Maret 2025 kemarin baru terealisasi 29.046 orang

Di masa depan, mungkin saja ilmu pengetahuan berkembang hingga manusia mampu melakukan regenerasi sel secara tak terbatas, mencapai bentuk keabadian biologis yang pernah diimpikan para filsuf dan ilmuwan.

Namun, seperti yang diingatkan Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning, hidup bukan hanya soal bertahan, tetapi juga soal menemukan makna.

Jika keabadian dicapai tanpa kedalaman spiritual dan kesadaran emosional, maka manusia akan memasuki era yang lebih mengerikan dari sekadar ketidakberartian—yaitu era penderitaan tanpa akhir. Keabadian tanpa makna adalah hukuman, bukan hadiah.

Nietzsche pernah berkata bahwa manusia modern terancam oleh nihilisme, sebuah kondisi di mana semua makna menjadi hampa.

Baca Juga: Temu silaturahim dengan jurnalis Subang, Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah paparkan realisasi program Ansyithah Ramadan 1446 H

Jika kecerdasan buatan berkembang tanpa keseimbangan dengan kecerdasan emosional dan spiritual, maka manusia akan menghadapi tragedi eksistensial yang lebih besar dibandingkan sekadar kehilangan pekerjaan. Kita akan kehilangan jiwa kita sendiri.

Sehingga, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah apakah AI akan menggantikan guru, melainkan apakah kita masih memiliki guru yang mampu membentuk karakter di tengah krisis makna ini. 

Jika kecerdasan buatan hanya sekadar alat, dan jika pendidikan sejati adalah pembentukan karakter, maka pertanyaan yang lebih mendasar adalah: pendidikan seperti apa yang sedang kita bangun?

Apakah kita masih memiliki guru-guru yang berperan sebagai penjaga kesadaran, ataukah mereka telah terjebak dalam sistem yang hanya mengejar efisiensi dan angka?

Baca Juga: DPR klaim terima masukan revisi UU TNI dari koalisi masyarakat sipil: Nanti akan ditetapkan

Di zaman yang menjadikan teknologi sebagai pusat dari segala sesuatu, mungkin kita perlu bertanya ulang: apakah kita masih mendidik manusia untuk menjadi lebih manusiawi, ataukah kita justru sedang melatih mereka agar berpikir seperti mesin?

Jika AI adalah masa depan, maka seharusnya kita bertanya, bukan apakah AI akan menggantikan kita, tetapi apakah kita masih memiliki sesuatu yang tidak bisa digantikan? 

Kita tahu bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kapasitas untuk memberi makna.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X