Jika sejak awal emosi seseorang telah rusak akibat lingkungan yang toksik, maka AI tidak perlu menggantikan manusia—karena manusia itu sendiri sudah kehilangan maknanya sebagai manusia.
Di masa depan, mungkin saja ilmu pengetahuan berkembang hingga manusia mampu melakukan regenerasi sel secara tak terbatas, mencapai bentuk keabadian biologis yang pernah diimpikan para filsuf dan ilmuwan.
Namun, seperti yang diingatkan Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning, hidup bukan hanya soal bertahan, tetapi juga soal menemukan makna.
Jika keabadian dicapai tanpa kedalaman spiritual dan kesadaran emosional, maka manusia akan memasuki era yang lebih mengerikan dari sekadar ketidakberartian—yaitu era penderitaan tanpa akhir. Keabadian tanpa makna adalah hukuman, bukan hadiah.
Nietzsche pernah berkata bahwa manusia modern terancam oleh nihilisme, sebuah kondisi di mana semua makna menjadi hampa.
Jika kecerdasan buatan berkembang tanpa keseimbangan dengan kecerdasan emosional dan spiritual, maka manusia akan menghadapi tragedi eksistensial yang lebih besar dibandingkan sekadar kehilangan pekerjaan. Kita akan kehilangan jiwa kita sendiri.
Sehingga, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah apakah AI akan menggantikan guru, melainkan apakah kita masih memiliki guru yang mampu membentuk karakter di tengah krisis makna ini.
Jika kecerdasan buatan hanya sekadar alat, dan jika pendidikan sejati adalah pembentukan karakter, maka pertanyaan yang lebih mendasar adalah: pendidikan seperti apa yang sedang kita bangun?
Apakah kita masih memiliki guru-guru yang berperan sebagai penjaga kesadaran, ataukah mereka telah terjebak dalam sistem yang hanya mengejar efisiensi dan angka?
Baca Juga: DPR klaim terima masukan revisi UU TNI dari koalisi masyarakat sipil: Nanti akan ditetapkan
Di zaman yang menjadikan teknologi sebagai pusat dari segala sesuatu, mungkin kita perlu bertanya ulang: apakah kita masih mendidik manusia untuk menjadi lebih manusiawi, ataukah kita justru sedang melatih mereka agar berpikir seperti mesin?
Jika AI adalah masa depan, maka seharusnya kita bertanya, bukan apakah AI akan menggantikan kita, tetapi apakah kita masih memiliki sesuatu yang tidak bisa digantikan?
Kita tahu bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kapasitas untuk memberi makna.
Artikel Terkait
Kampanye politik tarik perhatian lewat AI, begini yang terjadi di Indonesia dan belahan dunia lain
Mengintip panggung pembuktian AI sebagai ‘Magician’ di dunia teknologi, soca interact season 2 hadirkan 10+ episode secara gratis!
Apa itu AI Meta? fitur canggih yang digandrungi artis buat pamer ketenaran hingga beri keuntungan buat content creator!
Manusia vs teknologi, Wamen Dikti Stella Christie imbau masyarakat pandai manfaatkan AI agar ‘Tidak kalah telak’
4 Fakta menohok AS panik lihat AI buatan China DeepSeek guncang pasar global, salah satunya ‘meroket’ dengan modal kecil!
DeepSeek vs ChatGPT, ini plus minus AI asal China versus AS yang bersaing ketat di dunia kecerdasan buatan
ESAI : Narpit, jualan obat, AI dan kaum yang jumud