Dengan mengucapkan terima kasih kepada para cendekiawan terdahulu, yang membuat bangsa kita seperti sekarang ini, baik dan buruk adalah bangsa sendiri, maka saya mulai pidato kenegaraan ini.
Untuk ketiga kalinya saya menulis tentang Narudin Pituin (Narpit). Ketiga tulisan ini saya buat, guna meluruskan pendapat yang terbaca tak masuk akal, alis ngawur, namun beredar di ranah publik, baik melalui sosmed maupun blog atau web.
Saya memandang perlu men-counter pendapatnya itu, karena bisa menjadi waham yang dianut banyak umat.
Dia tak pernah mengeritik saya, namun tulisannya, baik yang berupa kritik terhadap orang lain, ataupun sunjang-sanjung karena Narpit diberi uang, akan beredar sebagai wacana di ranah publik, yang bisa menjadi waham itu.
Tulisan pertama saya turunkan, karena Narpit sering menjepit pihak lain dengan dalih kritik. Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S. Mahayana ditanduk, sastrawan Haikuku dan sastrawan Sunda diseruduk, dan lain-lain.
Ia menurunkan kritik, mengikuti adagium dari Tiongkok: Bila Anda anak kemarin sore, ingin dikenal dalam dunia per-kungfu-an, tantanglah para suhu. Jika Anda kalah, Anda tetap akan dikenal hebat.
Adagium itu dijalankan oleh Narpit, dan sialnya, dua orang Doktor dari PTN berbeda di Bandung, tampak mangut-mangut mengiyakan Narpit.
Dua doktor tersebut memang bukan suhu. Namun seperti SCB atau Maman tak akan terpancing.
Waktu ketemu pada 2016 di Depok saat saya diundang Dato Asrizal Nur, saya ketamu Maman, dan ia bilang, kalau saya ladeni, ya akan tambah besar kepala dia.
Tulisan kedua, ketika Narpit bermaksud memberikan sunjang-sanjung atas novel Sang Tokoh karya Kyai Wina Armada Sukardi.
Tulisan sunjang-sanjung dari Narpit itu, setelah saya cerna, isinya tidak tepat, misalnya melabeli novel Sang Tokoh dengan istilah novel bertendensi.
Saya memandang perlu membantah, karena novel tersebut diterbitkan oleh SituSeni, dan saya membaca bahkan mengedit-koreksi logika dalam novel.
Artikel Terkait
Penyair Wiji Thukul, aktivis perlawanan yang dihilangkan karena puisi
Bapak Bangsa Indonesia, H.O.S. Tjokroaminoto, pejuang kemerdekaan dan perintis pergerakan nasional
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Sinopsis buku Soe Hok Gie 'Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan'
Zaman Peralihan, merenung karya Soe Hok Gie dalam gelombang perubahan
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie