ESAI : Narpit, jualan obat, AI dan kaum yang jumud

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 6 Februari 2025 | 23:30 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat

Dengan mengucapkan terima kasih kepada para cendekiawan terdahulu, yang membuat bangsa kita seperti sekarang ini, baik dan buruk adalah bangsa sendiri, maka saya mulai pidato kenegaraan ini.

Untuk ketiga kalinya saya menulis tentang Narudin Pituin (Narpit). Ketiga tulisan ini saya buat, guna meluruskan pendapat yang terbaca tak masuk akal, alis ngawur, namun beredar di ranah publik, baik melalui sosmed maupun blog atau web.

Saya memandang perlu men-counter pendapatnya itu, karena bisa menjadi waham yang dianut banyak umat.

Dia tak pernah mengeritik saya, namun tulisannya, baik yang berupa kritik terhadap orang lain, ataupun sunjang-sanjung karena Narpit diberi uang, akan beredar sebagai wacana di ranah publik, yang bisa menjadi waham itu.

Baca Juga: Mendagri Malaysia ungkap kronologi penembakan 5 WNI di Selangor, abaikan peringatan dan ada upaya menabrak kapal milik APMM

Tulisan pertama saya turunkan, karena Narpit sering menjepit pihak lain dengan dalih kritik. Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S. Mahayana ditanduk, sastrawan Haikuku dan sastrawan Sunda diseruduk, dan lain-lain.

Ia menurunkan kritik, mengikuti adagium dari Tiongkok: Bila Anda anak kemarin sore, ingin dikenal dalam dunia per-kungfu-an, tantanglah para suhu. Jika Anda kalah, Anda tetap akan dikenal hebat.

Adagium itu dijalankan oleh Narpit, dan sialnya, dua orang Doktor dari PTN berbeda di Bandung, tampak mangut-mangut mengiyakan Narpit.

Dua doktor tersebut memang bukan suhu. Namun seperti SCB atau Maman tak akan terpancing.

Baca Juga: Berkaca dari pola sebelumnya, Mendagri Malaysia klaim potensi penyelidikan tentang penyelundupan narkoba atau senjata terkait penembakan 5 WNI

Waktu ketemu pada 2016 di Depok saat saya diundang Dato Asrizal Nur, saya ketamu Maman, dan ia bilang, kalau saya ladeni, ya akan tambah besar kepala dia.

Tulisan kedua, ketika Narpit bermaksud memberikan sunjang-sanjung atas novel Sang Tokoh karya Kyai Wina Armada Sukardi.

Tulisan sunjang-sanjung dari Narpit itu, setelah saya cerna, isinya tidak tepat, misalnya melabeli novel Sang Tokoh dengan istilah novel bertendensi.

Saya memandang perlu membantah, karena novel tersebut diterbitkan oleh SituSeni, dan saya membaca bahkan mengedit-koreksi logika dalam novel.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X