ESAI: Apabila guru tergantikan AI: Akankah kemanusiaan tetap bertahan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 22 Maret 2025 | 22:20 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Usung tema 'Ramadan Berdampak' program BAWA salurkan ke 4.673 penerima manfaat di 4 provinsi 

Ketika mesin cetak ditemukan oleh Gutenberg pada abad ke-15, para cendekiawan khawatir bahwa buku akan menggantikan guru. 

Namun yang terjadi justru sebaliknya: buku menjadi alat yang memperkuat pendidikan, bukan menggantikannya.

AI pun harus dilihat dalam perspektif yang sama. Ia hanyalah alat bantu yang mempercepat akses terhadap informasi, bukan entitas yang bisa menggantikan kehangatan interaksi manusiawi.

Yuval Noah Harari dalam Homo Deus memperingatkan bahwa di masa depan, manusia mungkin akan kehilangan makna jika mereka menyerahkan terlalu banyak keputusan kepada algoritma.

Baca Juga: Mantan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi jalur kereta api

Maka, pertanyaannya bukanlah apakah AI akan menggantikan guru, melainkan apakah kita akan membiarkan AI mengambil alih peran yang seharusnya dijalankan oleh manusia?

Ilustrasi Guru dan AI
Ilustrasi Guru dan AI

Namun, ada ancaman lain yang lebih besar dari sekadar kecerdasan buatan: yakni erosi karakter manusia itu sendiri.

Dunia pendidikan hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan sekadar munculnya AI—yaitu degradasi kesadaran.

Jika kita mengikuti logika Aristoteles tentang bagaimana karakter terbentuk, kita akan melihat bahwa segalanya berawal dari perasaan.

Baca Juga: Korupsi kembali terjadi, kali Ini eks mantan Dirjen Perkeretaapian didakwa karena rugikan negara mencapai Rp1,1 miliar

Perasaan membentuk pikiran, pikiran membentuk ucapan, ucapan membentuk tindakan, tindakan membentuk kebiasaan, dan kebiasaan akhirnya membentuk karakter.

Jika sistem pendidikan gagal membangun kesadaran emosional yang sehat sejak dini, maka generasi yang tumbuh tidak hanya akan kehilangan karakter, tetapi juga arah moral.

Di titik ini, AI bahkan bukan musuh yang paling berbahaya. Musuh terbesar adalah lingkungan yang membentuk generasi tanpa empati, tanpa kebijaksanaan, dan tanpa kedalaman makna.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X