ESAI: Apabila guru tergantikan AI: Akankah kemanusiaan tetap bertahan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 22 Maret 2025 | 22:20 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

AI bisa memproses data, tetapi ia tidak bisa merenungkan arti dari penderitaan, tidak bisa memahami keindahan yang menggetarkan hati, dan tidak bisa menemukan makna dalam kesedihan maupun kebahagiaan.

Baca Juga: Soroti laporan pidana geruduk rapat revisi UU TNI, Koalisi Masyarakat Sipil: Keliru dan tak berdasar hukum

Jika pendidikan gagal membentuk kesadaran ini, maka permasalahannya bukanlah AI yang menggantikan guru, tetapi manusia yang kehilangan esensinya sendiri.

Maka, tantangan terbesar bagi kita bukanlah memastikan bahwa AI tetap menjadi alat, tetapi memastikan bahwa manusia tetap menjadi manusia.

Sebab, jika di masa depan kita telah kehilangan karakter, kehilangan empati, kehilangan makna, maka kita tidak perlu AI untuk menggantikan guru—karena kita telah kehilangan sosok guru. 

Pada akhirnya, pendidikan bukanlah soal siapa yang mengajar, melainkan bagaimana kita mengajarkan generasi mendatang untuk memahami hakikat keberadaannya.

Baca Juga: 4 Poin rangkuman konferensi pers keluarga mendiang Kim Sae-ron, pertimbangkan bakal seret Kim Soo-hyun ke jalur hukum

Seperti yang dikatakan Rainer Maria Rilke, 'The only journey is the one within.'—perjalanan paling penting bukanlah menaklukkan dunia luar, tetapi memahami diri sendiri.

Jika AI adalah alat yang kita ciptakan, maka pertanyaan terakhir yang harus kita ajukan adalah: apakah kita masih memiliki kesadaran untuk tetap menjadi pencipta, atau kita justru sedang menyerahkan diri kita kepada ciptaan kita sendiri. 

Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X