AI bisa memproses data, tetapi ia tidak bisa merenungkan arti dari penderitaan, tidak bisa memahami keindahan yang menggetarkan hati, dan tidak bisa menemukan makna dalam kesedihan maupun kebahagiaan.
Jika pendidikan gagal membentuk kesadaran ini, maka permasalahannya bukanlah AI yang menggantikan guru, tetapi manusia yang kehilangan esensinya sendiri.
Maka, tantangan terbesar bagi kita bukanlah memastikan bahwa AI tetap menjadi alat, tetapi memastikan bahwa manusia tetap menjadi manusia.
Sebab, jika di masa depan kita telah kehilangan karakter, kehilangan empati, kehilangan makna, maka kita tidak perlu AI untuk menggantikan guru—karena kita telah kehilangan sosok guru.
Pada akhirnya, pendidikan bukanlah soal siapa yang mengajar, melainkan bagaimana kita mengajarkan generasi mendatang untuk memahami hakikat keberadaannya.
Seperti yang dikatakan Rainer Maria Rilke, 'The only journey is the one within.'—perjalanan paling penting bukanlah menaklukkan dunia luar, tetapi memahami diri sendiri.
Jika AI adalah alat yang kita ciptakan, maka pertanyaan terakhir yang harus kita ajukan adalah: apakah kita masih memiliki kesadaran untuk tetap menjadi pencipta, atau kita justru sedang menyerahkan diri kita kepada ciptaan kita sendiri.
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Artikel Terkait
Kampanye politik tarik perhatian lewat AI, begini yang terjadi di Indonesia dan belahan dunia lain
Mengintip panggung pembuktian AI sebagai ‘Magician’ di dunia teknologi, soca interact season 2 hadirkan 10+ episode secara gratis!
Apa itu AI Meta? fitur canggih yang digandrungi artis buat pamer ketenaran hingga beri keuntungan buat content creator!
Manusia vs teknologi, Wamen Dikti Stella Christie imbau masyarakat pandai manfaatkan AI agar ‘Tidak kalah telak’
4 Fakta menohok AS panik lihat AI buatan China DeepSeek guncang pasar global, salah satunya ‘meroket’ dengan modal kecil!
DeepSeek vs ChatGPT, ini plus minus AI asal China versus AS yang bersaing ketat di dunia kecerdasan buatan
ESAI : Narpit, jualan obat, AI dan kaum yang jumud