ESAI : Hitam putih PPDB sistem zonasi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 20 November 2024 | 02:00 WIB
Ramdan Hamdani, Founder Wahana Edu Institute
Ramdan Hamdani, Founder Wahana Edu Institute

Baca Juga: Momen Prabowo ungkap makan bergizi gratis di KTT G20 Brazil, begini 3 hal yang bakal dirasakan anak sekolah hingga ibu hamil

Dengan demikian, setiap sekolah akan memiliki siswa unggulan yang diharapkan mampu membagi pengalaman serta prestasinya dengan rekan-rekannya di kelasnya.

Dengan begitu, kemampuan untuk berkomunikasi dan berkolaborasi siswa pun akan benar-benar terasah.

Keempat, dengan diberlakukannya PPDB sistem zonasi, pemerintah sejatinya ingin lebih mendekatkan akses sekolah kepada masyarakat.

Artinya, anak tidak perlu menempuh jarak yang cukup jauh untuk bisa menikmati bangku sekolah.

Baca Juga: Perseteruan artis vs pengacara! ini 3 fakta soal perseteruan Denny Sumargo dan Farhat Abbas yang saling lapor ke polisi

Jika hal ini benar-benar terealisasi, akan banyak keuntungan yang diperoleh. Mulai dari berkurangnya polusi udara, sampai dengan menurunnya biaya yang harus dikeluarkan oleh orangtua untuk keperluan ongkos anaknya.

Dari pemaparan di atas, penulis berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan memberlakukan sistem zonasi dalam proses PPDB merupakan kebijakan yang tepat dan perlu dipertahankan.

Namun demikian, kebijakan tersebut tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dari masyarakat.

Oleh karenanya, dibutuhkan pengertian dan partisipasi dari masyarakat dalam menyukseskan program-program yang dicanangkan oleh pemerintah.

Baca Juga: Menyoroti program 3 juta rumah baru yang pakai sitaan koruptor, intip 3 fakta menarik dari Menteri PKP hingga BUMN

Adapun kejujuran orangtua selama proses PPDB merupakan hal yang sangat menentukan kesuksesan program pemerintah ini.

Menyerahkan dokumen-persyaratan yang sesuai dengan fakta adalah salah satu bentuk dukungan orangtua terhadap dunia pendidikan.

Dengan demikian, pemerataan kualitas pendidikan sebagaimana yang diharapkan pun dapat benar-benar terwujud.

Ramdan Hamdani, Founder Wahana Edu Institute

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X