ESAI : Hitam putih PPDB sistem zonasi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 20 November 2024 | 02:00 WIB
Ramdan Hamdani, Founder Wahana Edu Institute
Ramdan Hamdani, Founder Wahana Edu Institute

Baca Juga: PT Dahana berikan fasilas usaha mesin jahit bagi alumninya untuk kembangkan usaha

Pertama, sistem zonasi yang diterapkan dalam proses PPDB bukanlah kebijakan yang muncul secara tiba-tiba, melainkan sudah melalui kajian yang sangat matang.

Adapun yang menjadi tujuan utama dari diberlakukannya kebijakan tersebut adalah terwujudnya pemerataan mutu pendidikan di seluruh lembaga pendidikan (sekolah).

Melalui sistem zonasi, pemerintah mendorong seluruh sekolah untuk meningkatkan kualitas layanannya sehingga mampu menjadi sekolah favorit bagi warga di sekitarnya.

Dengan demikian, adanya anggapan bahwa sistem zonasi menghalangi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan terbaik menjadi tidak relevan.

Baca Juga: Panwascam Subang kampanyekan pemilu damai dan gembira dengan menggelar Bimtek Pelatihan Pengawasan Partisipatif

Kedua, peningkatan mutu layanan sekolah bukanlah semata-mata tanggungjawab pihak manajemen sekolah maupun pemerintah.

Maju atau tidaknya sekolah juga ditentukan oleh sejauh mana partisipasi orangtua dalam menyukseskan program-program yang dicanangkan oleh sekolah.

Maka dari itu, masukan dan bantuan berupa tenaga, pikiran, bahkan dana dari para orangtua sangatlah diharapkan.

Artinya, sangat tidak bijak apabila kita ingin mendapatkan layanan yang terbaik dari sekolah sementara kita sendiri hanya berdiam diri dan tidak memberikan sumbangsih yang berarti.

Baca Juga: Tak ingin lesu di kandang sendiri, 3 momen manis ini jadi pelecut semangat Thom Haye jelang laga kontra Arab Saudi

Ketiga, adanya pergeseran paradigma pembelajaran di abad 21 yang perlu dipahami oleh orangtua.

Diberlakukannya Kurikulum 2013 sejak beberapa tahun silam sejatinya dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan hadirnya sebuah konsep pembelajaran yang mampu memberikan bekal kepada generasi saat ini untuk menjawab berbagai tantangan di masa yang akan datang.

Adapun kemampuan untuk berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis serta bertindak kreatif atau yang lebih dikenal dengan istilah 4C (communication, collaboration, critical thinking and creativity) menjadi modal dasar bagi mereka yang saat ini tengah duduk di bangku sekolah untuk mampu menghadapi persaingan global.

Dalam konteks PPDB dengan sistem zonasi, siswa yang memiliki prestasi sangat baik di sekolah sebelumnya diharapkan tidak hanya berkumpul pada satu sekolah saja, melainkan disebar ke seluruh sekolah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X