ESAI : Hitam putih PPDB sistem zonasi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 20 November 2024 | 02:00 WIB
Ramdan Hamdani, Founder Wahana Edu Institute
Ramdan Hamdani, Founder Wahana Edu Institute

Terpilihnya Abdul Mukti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) dinilai dapat membawa angin segar bagi dunia pendidikan.

Prinsip 'the right man on the right place' nampaknya benar-benar diimplementasikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam mengisi kabinetnya.

Latar belakang Abdul Mukti yang akrab dunia pendidikan dinilai sangat cocok untuk memimpin kementerian yang bertugas untuk melahirkan SDM unggul berdaya saing tinggi itu.

Tak heran apabila masyarakat serta kalangan pendidikan pun menaruh harapan besar akan lahirnya sistem pendidikan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Momen akrab Prabowo bareng para pemimpin dunia di balik layar KTT G20, berpegangan tangan dengan Erdogan

Satu hal yang cukup mendapatkan perhatian masyarakat umum adalah perihal proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) melalui sistem zonasi.

Sebagian masyarakat menilai, sistem zonasi telah merampas hak anak mereka untuk mendapatkan layanan pendidikan yang terbaik.

Kebijakan tersebut dianggap telah menghalangi anak mereka untuk mendaftar ke sekolah yang diinginkannya sekalipun anaknya memiliki prestasi akademik dan non akademik yang sangat baik.

Penerapan sistem zonasi dipandang sebagai bentuk perampasan hak warga untuk mendapatkan layanan pendidikan yang terbaik.

Baca Juga: Di hadapan pimpinan negara G20, Prabowo kembali suarakan perdamaian Palestina

Masyarakat pun menghimbau kepada pihak terkait untuk menerapkan kebijakan tersebut apabila seluruh sekolah telah benar-benar memiliki standar yang relatif sama dalam hal sarana, prasarana maupun tenaga pengajarnya.

Menyikapi masukan dari masyarakat tersebut, Abdul Mukti pun berjanji akan melalukan evaluasi serta kajian lebih mendalam terkait berbagai kebijakan yang berlaku saat ini.

Mulai dari PPDB sistem zonasi, keberlanjutan Kurikulum Merdeka, sampai dengan kemungkinan diberlakukannya kembali Ujian Nasional (UN).

Dari alasan-alasan yang dipaparkan oleh orangtua tersebut, ada beberapa hal yang menjadi catatan penulis.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X