ESAI : Merayu Cina dan Korea

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 3 Juli 2024 | 16:13 WIB
Lukman Nurhakim, Dirut Perumda TRS (kedua dari kiri)
Lukman Nurhakim, Dirut Perumda TRS (kedua dari kiri)

Baca Juga: Rayakan Hari Bhayangkara ke-78, Kapolres Subang gelar syukuran di Aula Pemkab Subang

Mata air yang digunakan Perumda TRS sudah melalui kajian. Tidak mungkin mengering dalam waktu 10 atau 20 tahun lagi. Kecuali ada kerusakan alam yang ekstrem.

Sebelum menentukan mengambil sumber air, kami harus dilakukan riset dan pengukuran debit. Diukur saat musim hujan dan saat musim kemarau. Begitu juga saat kami menentukan sungai yang akan dijadikan sumber air baku.

Itu sebabnya tidak semua mata air atau sungai layak digunakan untuk pelayanan Perumda TRS. Sebab air hasil olahan Perumda harus sesuai standar yang sudah ditetapkan Kementerian Kesehatan. Tidak cukup jernih, juga harus bebas dari kandungan berbahaya. Harus dibubuhkan kaporit.

Karena mengandung kaporit itu pula, ada masyarakat yang menolak berlangganan Perumda, padahal itu syarat mutlak. Sebab kaporit bisa membunuh virus, bakteri dan algae.

Baca Juga: Kapolres Subang, AKBP Ariek Indra Sentanu pimpin upacara peringati Hari Bhayangkara ke-78 di Lapangan Pemkab Subang

Tapi kami pun menyadari, pelanggan banyak menerima air dengan kondisi keruh. Terutama di wilayah yang bersumber dari mata air Cibulakan yang melayani Cijambe, Kota Subang dan Cibogo.

Itu PR berat. Sudah lama tidak terpecahkan. Saat hujan deras, sumber air dari Cibulakan keruh. Kami menduga karena resapan air sudah terpengaruh aktivitas galian batu. Tapi, kami belum punya bukti hasil riset. Baru menduga.

Sebab, menurut para pensiunan dan pegawai senior Perumda TRS, sebelum ada akvitas galian batu, mata air lebih jernih. 

Tidak pernah seperti saat ini. Saat kekeruhan ekstrem dengan kekeruhan di antas 100 NTU, sand filter dan koagulan untuk menjernihkan air tidak bekerja efektif. 

Baca Juga: Peluang bisnis, ini 8 jenis bisnis minuman yang bisa menangkan hati konsumen

Jika sudah begitu, pendistribusian air harus dihentikan. Dilakukan backwash agar air kembali jernih. Saat begini, pelanggan rugi. Kami juga rugi.

Kami sudah sampaikan kondisi ini ke beberapa perusahaan Korea dan Singapura. Barangkali mereka bisa membantu.

Ada satu perusahaan Korea yang punya teknologi nano-bubble. Sudah diujicoba. Hasilnya bagus. Sangat bagus. Kekeruhan bisa sampai 0,5 NTU. Seperti air AMDK, sangat jernih.

Tapi kami harus beli teknologi itu. Harga pokoknya saja Rp 5 miliar. Belum termasuk pajak, biaya instalasi, biaya pengiriman dan upah tenaga ahli dari Korea. Mungkin bisa sampai Rp 6 miliar. Kami tarik nafas. Berat. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X