ESAI : Merayu Cina dan Korea

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 3 Juli 2024 | 16:13 WIB
Lukman Nurhakim, Dirut Perumda TRS (kedua dari kiri)
Lukman Nurhakim, Dirut Perumda TRS (kedua dari kiri)

Baca Juga: Dapat penghargaan dari Pj. Gubernur Jabar, Perumda TRS Subang tengah proses penjajakan dengan para investor untuk proyek SPAM Pelabuhan Patimban

Elevasinya bagus. Bisa gravitasi, tidak perlu pompa. Artinya biaya operasional lebih hemat. Bisa menggantikan atau back up sumber dari mata air Cipondok yang Januari lalu longsor. 

Air dari Cipondok memang besar. Cukup untuk layanan di tiga kecamatan. Tapi air harus dipompa ke atas. Biaya listriknya saja lebih dari Rp 300 juta/bulan. Jika dari Curug Cibareubeuy, sistem gravitasi, tidak perlu pompa. Artinya biaya listrik nol rupiah.

Kami juga sudah hitung biayanya, sekitar Rp 17 miliar. Biaya sendiri tidak mungkin, dari Pemda juga berat. Kami sudah sampaikan ke pemerintah pusat, juga ke beberapa calon investor.

Mudah-mudahan ada yang tertarik. Bisa untuk melayani wilayah Kasomalang, Jalancagak dan Ciater. 

Baca Juga: Hari Bhayangkara ke-78, Pj. Bupati apresasi kinerja Polres Subang dalam upaya memecahkan berbagai kasus yang ada di Kabupaten Subang

Khusus wilayah Ciater, sampai sekarang belum ada jaringan pipa Perumda. Mengapa? Menurut tim Hubungan Langganan, Kecamatan Ciater masuk daerah yang belum membutuhkan air dari Perumda.

Banyak sumber mata air yang bisa digunakan warga. Warga kelola sendiri. Biasa kita menyebutnya Pamsimas atau Pamdes.

Perumda tidak mungkin bersaing dengan program pemerintah itu. Setiap bulan, warga biasanya hanya dikenakan biaya flat: antara Rp 10 ribu-Rp20 ribu saja. 

Tapi tahun lalu, Perumda TRS dikagetkan permintaan air dari Kampung Cigintung, Desa Palasari, Kecamatan Ciater. Warga di sana kesulitan air bersih. Sumber air yang dikelola Pamdes mengering. 

Baca Juga: Kodim 0605/Subang terima kunjungan 12 Pasis Dikreg LXIV Seskoad untuk laksanakan KKL di wilayah pertahanan Kabupaten Subang

Memang tahun lalu selama tiga bulan tidak ada hujan. Sejak Juni hingga Agustus. Tahun ini, alhamdulillah, masih ada hujan.

Apakah air Perumda TRS akan mengering saat musim kemarau panjang? 

Secara teoritis bisa mengering atau berkurang drastis. Misal mata air di Ciherang, Cijambe sudah kami tinggalkan. Sebab debitnya terus turun drastis. 

Sejak tahun 2000, pindah menggunakan mata air dari Cibulakan. Debitnya besar. Saat musim kemarau ekstrem saja, masih 1.300 lps.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X