ESAI : Idul Adha dan pendidikan bagi masyarakat

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 18 Juni 2024 | 11:40 WIB
Ucu, S.S, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masyarakat
Ucu, S.S, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masyarakat

Pada momen Idul Adha ini saya ingin mengulas mengenai cerita Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang memiliki ketaatan, kesabaran dan keikhlasan yang sangat luar biasa. 

Sikap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sangat luar biasa ini terlihat atas ujian yang diberikan Allah SWT. 

Pertama, pada pernikahan Nabi Ibrahim dengan Siti Sarah yang telah bertahun-tahun kemudian tak kunjung dikaruniai keturunan. 

Sebagaimana layaknya pasangan suami istri dimana mereka sangat menginginkan keturunan. 

Baca Juga: Flora Wisata D’Castello gelar ngopi dan diskusi bareng jurnalis Subang, babak baru kolaborasi dalam majukan sektor pariwisata Subang

Akhirnya atas petunjuk dari Allah SWT, Nabi Ibrahim harus menikah dengan Siti Hajar

Siti Sarah kemudian dengan ikhlas menawarkan suaminya untuk menikah dengan Siti Hajar agar diberi keturunan. Akhirnya Nabi Ibrahim pun menikah dengan Siti Hajar. 

Kemudian Siti Hajar akhirnya melahirkan putra pertama Nabi ibrahim yang bernama Ismail.

Kedua, Atas dasar kecintaan kepada Nabi Ibrahim sebagai suaminya, kelahiran Nabi Ismail kemudian menimbulkan kecemburuan Siti Sarah kepada Siti Hajar. 

Baca Juga: Selama tahun 2024, PPATK catat transaksi judi online capai Rp600 triliun

Siti Sarah kemudian meminta Nabi Ibrahim as. untuk menyingkirkan Siti Hajar dari pandangannya. 

Nabi Ibrahim lalu membawa Siti Hajar dan bayi Ismail keluar dari rumah mereka untuk meringankan kecemburuan Siti Sarah. 

Mereka berjalan sampai di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Kota Makkah.

Ketiga, Bertahun-tahun Nabi Ibrahim tak pernah bertemu dengan Siti Hajar dan anak yang dia rindukan, namun akhirnya Allah SWT mengakhiri ujian tersebut dengan mempertemukannya dengan Siti Hajar dan Nabi Ismail.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X