GENMILENIAL.ID - Nama Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa kita kenal sebutan Buya Hamka adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dikenal pula sebagai ulama Muhammadiyah yang alim. Perjuangan hidupnya, Buya Hamka dikenal sebagai sosok ulama besar yang gigih membela Islam dan sangat tegas mengenai hal akidah.
Dari beragam karyanya membuat penerangan bagaikan sinar lampu yang terang di tengah ruang kegelapan. Meski sudah tiada tetapi buah pikiran, karya karyanya terus hidup di sepanjang lini kehidupan.
Tidak bisa kita lupakan meski jasadnya telah tiada, karena dengan karyanya yang sangat gemilang nama buya hamka terus di kenang karena karya-karyanya.
Di sisi lain, Hamka juga dikenal sebagai penulis, salah satu novelnya yang terkenal adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, hingga novel ini diangkat ke layar lebar. Pemeran dari film ini adalah Herjunot Ali, Pevita Pearce dan Reza Rahadian.
Latar Belakang Pemikiran Buya Hamka Yusran Rusydi dalam buku Buya Hamka: Pribadi dan Martabat menyatakan Buya Hamka adalah anak dari DR. Syaikh Abdulkarim Amrullah, tokoh pelopor dari Gerakan Islam "Kaum Muda" di Minangkabau yang memulai gerakannya pada tahun 1906 usai pulang dari Makkah.
Buya Hamka lahir di saat zaman hebat pertentangan kaum muda dan kaum tua (1908) atau 1325 Hijriah. Oleh karena ia lahir di era pergerakan itu, Buya sudah terbiasa mendengar perdebatan sengit antara kaum muda dan kaum tua tentang paham agama.
Saat Buya Hamka berusia 10 tahun, tepat pada 1918, ayahnya mendirikan pondok pesantren "Sumatera Thawalib" di Padang Panjang. Dari sana, Hamka sering melihat bapaknya menyebarkan paham dan keyakinannya.
Baca Juga: Biografi singkat Buya Hamka, Ulama, penuh karya, dan latar pemikiran
Di akhir tahun 1924, tepat di usia ke 16 tahun, Hamka merantau ke Yogyakarta dan mulai belajar pergerakan Islam modern kepada sejumlah tokoh seperti H.O.S Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, R.M Soerjopranoto dan H. Fakhruddin. Dari sana dia mulai mengenal perbandingan antara pergerakan politik Islam, yaitu Syarikat Islam Hindia Timur dan gerakan Sosial Muhammadiyah.
Bukan hanya itu ternyata kepedulian terhadap generasi muda seorang Buya Hamka tak dapat dipandang sebelah mata. Ia penuh perhatian sangat tinggi kepada anak muda, dimana suatu saat nanti pasti akan menjadi penerus yang merawat bangsa.
Baca Juga: Penyair Wiji Thukul dan 7 puisi perlawananya terhadap ketidakadilan
Hal itu ia tunjukkan melalui ucapannya yang mengatakan bahwa, “Saya lebih senang dan merasa lebih berfaedah berhadapan dengan dua orang pemuda yang bersemangat dan bercita-cita, yang senantiasa resah dan gelisah, yang tiada merasa puas, yang hendak memahat batu dan ia mengatakan dengan lantang, inilah saya!”
Ungkapan tersebut sepertinya bukan hanya kalimat yang biasa. Apabila dipahami lebih dalam, Hamka sangat mendambakan sosok pemuda yang berani dengan sikap berdiri sendiri, dimana anak muda selalu menciptakan gagasan perubahan, semangat yang menunjukan gaya spirit kebangkitan untuk hidup berkemajuan.
Sebab ilmu pengetahuan Itulah salah satu alat untuk menuntut pikiran bisa maju, kekuatan pikiran bisa bertambah kuat dan bisa juga lemah
Artikel Terkait
3 Tips ungkapkan pendapat terbaik agar terhindar dari pertengkaran
Penyair Wiji Thukul dan 7 puisi perlawananya terhadap ketidakadilan
Pemuda Muhammadiyah Subang kutuk keras pelaku penembakan Sekum PP PM 2010-2014
Biografi singkat Buya Hamka, Ulama, penuh karya, dan latar pemikiran
Inilah 6 pilihan kata kata bijak dari Buya Hamka