GENMILENIAL.ID - Tidak bisa kita lupakan meski jasadnya telah tiada, seorang Buya Hamka merupakan tokoh muhammadiyah, ulama yang beragam karya. juga tokoh nasionalis penuh inspirasi bagi semua kalangan. Ketinggian ilmunya, kontribusi pemikirannya, hingga perannya yang mencerahkan dan menggembirakan.
Dari beragam karyanya membuat penerangan bagaikan sinar lampu yang terang di tengah ruang kegelapan. Meski sudah tiada tetapi buah pikiran, karya karyanya terus hidup di sepanjang lini kehidupan.
Bukan hanya itu ternyata kepedulian terhadap generasi muda seorang Buya Hamka tak dapat dipandang sebelah mata. Ia penuh perhatian sangat tinggi kepada anak muda, dimana suatu saat nanti pasti akan menjadi penerus yang merawat bangsa.
Baca Juga: Biografi singkat Buya Hamka, Ulama, penuh karya, dan latar pemikiran
Baca Juga: Penyair Wiji Thukul dan 7 puisi perlawananya terhadap ketidakadilan
Hal itu ia tunjukkan melalui ucapannya yang mengatakan bahwa, “Saya lebih senang dan merasa lebih berfaedah berhadapan dengan dua orang pemuda yang bersemangat dan bercita-cita, yang senantiasa resah dan gelisah, yang tiada merasa puas, yang hendak memahat batu dan ia mengatakan dengan lantang inilah saya!”
Ungkapan tersebut sepertinya bukan hanya kalimat yang biasa. Apabila dipahami lebih dalam, Hamka sangat mendambakan sosok pemuda yang berani dengan sikap berdiri sendiri, dimana anak muda selalu menciptakan gagasan perubahan, semangat yang menunjukan gaya spirit kebangkitan untuk hidup berkemajuan.
Dengan begitu, jika Hamka begitu tegas kepada para pemuda agar tidak ragu bersikap “gila”. Karena menurutnya, dengan kegilaan itulah akan muncul terobosan yang gila pula.
Pandangan Bertrand Russel, ia mengatakan “jangan takut memiliki pemikiran-pemikiran gila, karena setiap pemikiran yang saat ini diterima; dulunya juga dianggap gila.”
Pemuda yang hebat bukanlah ia yang selalu membanggakan karya orang tuanya. Tetapi merekalah anak muda yang berani tampil tanpa membawa embel-embel nama besar keturunannya.
Seperti dikatakan dalam sebuah ungkapan bahwa “bukanlah seorang pemuda, yang mengatakan ini bapak saya, akan tetapi yang dikatakan pemuda, ialah yang mengatakan bahwa “inilah saya!”
Peran penting antara generasi tua dan generasi muda. Kalau bahasa Milenialnya, generasi muda simbolnya ngegas, generasi tua simbolnya ngerem.
Baca Juga: 3 Tips ungkapkan pendapat terbaik agar terhindar dari pertengkaran
Artikel Terkait
Catatan aktivis dan 5 puisi Soe Hok Gie yang inspiratif
Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Indonesia yang dihilangkan dalam sejarah, berikut perjalanan hidupnya
Kuliah sambil kerja, berikut 3 tips yang bisa kamu lakukan, biar lulus tepat waktu
Penyair Wiji Thukul dan 7 puisi perlawananya terhadap ketidakadilan
Biografi singkat Buya Hamka, Ulama, penuh karya, dan latar pemikiran