GENMILENIAL.ID- Siapa yang tidak kenal dengan nama Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa kita kenal sebutan Buya Hamka adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dikenal pula sebagai ulama Muhammadiyah yang alim. Perjuangan hidupnya, Buya Hamka dikenal sebagai sosok ulama besar yang gigih membela Islam dan sangat tegas dalam hal akidah, tanpa kompromi.
“Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak manapun!” tegas Hamka setelah dilantik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1975 (Artawijaya, Hidayatullah, 2 Juli 2013).
Diantara ketegasan itu adalah saat dirinya menjabat sebagai Ketua MUI Pusat, di mana ia berani mengeluarkan fatwa yang sampai saat ini masih menjadi diskusi keagamaan, bahkan memantik perdebatan, yakni mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam terkait perayaan Natal bersama.
Baca Juga: Pemuda Muhammadiyah Subang kutuk keras pelaku penembakan Sekum PP PM 2010-2014
Bahkan, pada 19 Mei 1981, Hamka mundur dari jabatannya sebagai Ketua MUI karena merasa ditekan oleh menteri agama waktu itu, Alamsyah Ratu Perwiranegara. Buya memilih mundur daripada harus mengiyakan fatwa tersebut.
Di sisi lain, Hamka juga dikenal sebagai penulis, salah satu novelnya yang terkenal adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, belakangan novel ini diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Pemeran dari film ini adalah Herjunot Ali, Pevita Pearce dan Reza Rahadian.
Latar Belakang Pemikiran Buya Hamka
Yusran Rusydi dalam buku Buya Hamka: Pribadi dan Martabat menyatakan Buya Hamka adalah anak dari DR. Syaikh Abdulkarim Amrullah, tokoh pelopor dari Gerakan Islam "Kaum Muda" di Minangkabau yang memulai gerakannyapada tahun 1906 usai pulang dari Makkah.
Syaikh lebih dikenal dengan panggilan Haji Rasul yang mempelopori gerakan menentang ajaran Rabithah, sebuah gerakan yang menghadirkan guru dalam ingatan, sebagai salah satu cara yang ditempuh oleh penganut tarekat jika mulai mengerjakan suluk.
Buya Hamka lahir di saat zaman hebat pertentangan kaum muda dan kaum tua (1908) atau 1325 Hijriah. Oleh karena ia lahir di era pergerakan itu, Buya sudah terbiasa mendengar perdebatan sengit antara kaum muda dan kaum tua tentang paham agama.
Baca Juga: Penyair Wiji Thukul dan 7 puisi perlawananya terhadap ketidakadilan
Saat Buya Hamka berusia 10 tahun, tepat pada 1918, ayahnya mendirikan pondok pesantren "Sumatera Thawalib" di Padang Panjang. Dari sana, Hamka sering melihat bapaknya menyebarkan paham dan keyakinannya.
Di akhir tahun 1924, tepat di usia ke 16 tahun, Hamka merantau ke Yogyakarta dan mulai belajar pergerakan Islam modern kepada sejumlah tokoh seperti H.O.S Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, R.M Soerjopranoto dan H. Fakhruddin. Dari sana dia mulai mengenal perbandingan antara pergerakan politik Islam, yaitu Syarikat Islam Hindia Timur dan gerakan Sosial Muhammadiyah.
Kelak, Buya Hamka dikenal sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, tokoh Masyumi dan ulama Muhammadiyah.
Artikel Terkait
Seseorang masuk surga bukan karena amal? Begini penjelasan Buya Yahya
Catatan aktivis dan 5 puisi Soe Hok Gie yang inspiratif
Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Indonesia yang dihilangkan dalam sejarah, berikut perjalanan hidupnya
Amalkan dzikir ini untuk menyembuhkan segala macam penyakit menurut Ustadz Adi Hidayat
Pemuda Muhammadiyah Subang kutuk keras pelaku penembakan Sekum PP PM 2010-2014