ISI bedah strategi AS era Trump, Indonesia dihadapkan tantangan besar di kawasan Indo-Pasifik

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:10 WIB
Indo Pacific Strategic Intelligence (ISI) gelar diskusi daring bertajuk Spheres of Influence and Strategic Retrenchment: How Trump Reshapes Great Power Competition and Its Implications for the Indo-Pacific (Dok. ISI)
Indo Pacific Strategic Intelligence (ISI) gelar diskusi daring bertajuk Spheres of Influence and Strategic Retrenchment: How Trump Reshapes Great Power Competition and Its Implications for the Indo-Pacific (Dok. ISI)

“Indonesia harus mencegah keterjebakan dalam rivalitas kekuatan besar, sambil tetap berperan aktif menjaga stabilitas kawasan,” tegas Salim, merujuk pada prinsip politik luar negeri bebas dan aktif.

Baca Juga: Pegiat antikorupsi bedah dugaan pelanggaran tambang emas Tumpang Pitu Banyuwangi

Persaingan AS–China tekan sentralitas ASEAN

Direktur Riset ISI, Dr. Ian Montratama, menyoroti meningkatnya persaingan AS–China telah memberi tekanan serius terhadap sentralitas ASEAN, terutama dengan maraknya kerja sama minilateral.

Ia mengusulkan pendekatan armed neutrality melalui penguatan kapabilitas pertahanan nasional yang dibarengi strategi functional decoupling, kerja sama ekonomi dengan China dan kolaborasi pertahanan dengan AS tanpa keberpihakan politik.

“Menjadi musuh AS atau China sama-sama mahal. Tapi ketergantungan berlebihan juga berisiko,” ujarnya.

Indo-Pasifik jadi poros geopolitik global

Pandangan serupa disampaikan Dosen Hubungan Internasional President University, Dr. Jeanne Francois, yang menilai konsep Indo-Pasifik telah berkembang menjadi kerangka strategis berkelanjutan, bukan sekadar jargon kebijakan.

Baca Juga: Dua bulan pascabanjir, warga Kampung Jamat Aceh Tengah masih krisis air bersih

Ia merekomendasikan Indonesia memperkuat diplomasi jalur kedua, kolaborasi akademik, serta kerja sama keamanan non-tradisional seperti siber dan perlindungan infrastruktur kritis.

Diskusi ISI menyimpulkan bahwa meski kebijakan AS berubah, Indo-Pasifik tetap menjadi poros utama geopolitik dunia.

Tantangan Indonesia adalah menjaga sentralitas ASEAN, memperkuat pertahanan maritim, dan menavigasi persaingan kekuatan besar secara pragmatis dan berlandaskan kepentingan nasional.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X