GENMILENIAL.ID — Pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto yang sempat menyebut kondisi banjir di Sumatera 'hanya mencekam di media sosial' menuai sorotan luas dari publik.
Di tengah masa tanggap darurat bencana, pernyataan tersebut dinilai mencerminkan persoalan mendasar dalam sistem informasi kebencanaan di Indonesia.
Kritik tersebut disampaikan oleh akademisi Sulfikar Amir, yang menilai pernyataan kontroversial itu tidak bisa dilepaskan dari lemahnya infrastruktur informasi dan minimnya peringatan dini kepada masyarakat.
Baca Juga: Korban banjir Aceh Tamiang beri semangat untuk Mualem: Konflik dan tsunami saja kita sudah hadapi
Hal itu ia sampaikan dalam sebuah podcast yang diunggah di kanal YouTube Forum Keadilan TV pada Senin, 15 Desember 2025.
Informasi jadi kunci utama penanganan bencana
Sulfikar menegaskan bahwa informasi merupakan faktor krusial dalam mitigasi dan penanganan bencana.
Tanpa data yang valid dan tersampaikan dengan baik, kebijakan dan pernyataan pejabat publik berpotensi melenceng dari realitas di lapangan.
“Di dalam penanganan bencana, salah satu faktor yang sangat menentukan di dalam mitigasinya itu adalah informasi,” ujar Sulfikar.
Baca Juga: Air mata bahagia di posko pengungsian Aceh Tamiang, seorang ayah akhirnya bisa video call anaknya
Ia menjelaskan bahwa setidaknya ada dua jenis informasi penting yang seharusnya dimiliki dan disampaikan sejak awal.
Pertama, informasi mengenai apa yang sedang terjadi, dan kedua, informasi tentang langkah apa yang harus dilakukan masyarakat.
“Ini mestinya sudah masuk ke masyarakat ketika peristiwa itu berlangsung, paling lambat satu hari pertama. Masyarakat harus tahu apa yang terjadi dan apa yang harus mereka lakukan,” terangnya.
Minim peringatan dini jadi masalah serius
Artikel Terkait
Di balik senyumnya, bocah pengungsi Aceh hanya minta satu baju karena pakaiannya hanyut
Sinyal masih sulit, relawan bantu ibu di Aceh Tamiang video call anak yang kuliah di Yaman: Mamak di sini aman
Pengungsi Aceh jamui relawan dari dapur umum, kisah berbagi di tengah duka banjir bikin haru
Lawan keterisolasian, warga Beutong Ateuh nekat bangun jembatan kayu di tengah arus sungai deras
Tak punya uang, punya tenaga: Pemuda Aceh rela jalan puluhan kilometer jual cabai demi korban banjir
Air mata bahagia di posko pengungsian Aceh Tamiang, seorang ayah akhirnya bisa video call anaknya
Korban banjir Aceh Tamiang beri semangat untuk Mualem: Konflik dan tsunami saja kita sudah hadapi