Baca Juga: Kabut asap karhutla kepung Palembang, pemerintah coba cara tak biasa dengan 1,5 ton dry ice
Melalui keterangan resminya pada Selasa 20 Oktober 2026, Greenpeace menyebut aksi tersebut sebagai bentuk desakan agar pemerintah memperhatikan dampak krisis iklim terhadap kualitas hidup masyarakat.
Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia Jeanny Sirait mengatakan, organisasinya terus menyuarakan persoalan lingkungan dan mendesak pemerintah mengambil langkah yang lebih serius.
“Greenpeace Indonesia terus menggaungkan suara masyarakat, mendesak Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk membuka mata terhadap krisis iklim yang makin memperburuk kualitas hidup masyarakat,” ujar Jeanny.
Baca Juga: Penagihan utang berujung bentrok di Kudus, Kapolda ungkap komisi DC hingga 50 persen
Greenpeace menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari bencana ekologis, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, hingga kenaikan biaya hidup yang dinilai membebani masyarakat.
Melalui pesan pada spanduk tersebut, Greenpeace mengaitkan penanganan krisis iklim dengan kebutuhan masyarakat terhadap kehidupan yang lebih aman dan terjangkau.
Enam aktivis dievakuasi petugas gabungan
Setelah membentangkan spanduk di atas Monumen Selamat Datang, keenam aktivis dievakuasi oleh petugas gabungan.
Proses tersebut melibatkan kepolisian, Kodim 0501 Jakarta Pusat, serta petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan Jakarta Pusat.
Baca Juga: Cara mengurus sertifikat halal gratis 2026, simak syarat dan tahap pendaftarannya
Petugas mengutamakan keselamatan selama proses evakuasi berlangsung.
Kondisi salah seorang aktivis perempuan yang terlihat lemas menjadi perhatian sehingga ia segera dibawa menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan medis.
Setelah dievakuasi, keenam aktivis dibawa ke Klinik Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya untuk mendapatkan penanganan.
Polisi juga menyatakan akan mendalami bagaimana para aktivis dapat mencapai bagian atas monumen.