Apakah perubahan iklim bisa pengaruhi kesehatan anak?

photo author
Abdul Rouf, Genmilenial
- Kamis, 19 September 2024 | 19:07 WIB
Ilustrasi (Pixabaya_StockSnap)
Ilustrasi (Pixabaya_StockSnap)

GENMILENIAL.ID - Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan dampaknya sudah terasa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Meningkatnya suhu global, pola cuaca yang tak menentu, serta bencana alam yang semakin sering terjadi membawa berbagai dampak buruk, salah satunya adalah pada kesehatan anak-anak.

Polusi udara dan masalah pernapasan

Salah satu dampak perubahan iklim yang paling nyata adalah peningkatan polusi udara.

Emisi gas rumah kaca dari kendaraan bermotor, pembakaran hutan, dan industri menyebabkan kualitas udara menurun.

Baca Juga: BBPOM Bandung lakukan sertifikasi PJAS di SDN RA Kartini, ini hasil yang diharapkan

Anak-anak, terutama yang masih dalam masa pertumbuhan, lebih rentan terkena masalah pernapasan seperti asma, bronkitis, dan penyakit paru-paru lainnya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 93% anak-anak di seluruh dunia terpapar polusi udara yang berbahaya, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan memburuknya kondisi iklim.

Penyakit menular dan perubahan pola penyakit

Perubahan iklim juga mempengaruhi pola penyebaran penyakit menular.

Penyakit yang disebabkan oleh vektor, seperti demam berdarah dan malaria, semakin meluas karena nyamuk, sebagai pembawa penyakit, mampu berkembang biak di daerah yang lebih hangat.

Baca Juga: Geger kasus peretasan aset kripto Indodax, Inilah cara mengetahui jenis crypto attack dan upaya pencegahannya

Kenaikan suhu dan curah hujan yang tidak teratur menciptakan lingkungan ideal bagi nyamuk untuk berkembang, memperluas penyebaran penyakit ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak terjangkit.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, insiden demam berdarah di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di daerah-daerah yang sebelumnya tidak dianggap sebagai zona merah penyakit ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Rouf

Sumber: Unicef, WHO, Kementerian Kesehatan Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X