Jika benar terjadi, data semacam itu berpotensi disalahgunakan untuk berbagai kejahatan digital, seperti pengambilalihan akun, penipuan perbankan, hingga serangan SIM swap.
Selain itu, ancaman lain yang mengintai adalah phishing dan social engineering yang kerap menargetkan pengguna layanan digital.
Tingginya penggunaan mobile banking dan layanan keuangan digital di Indonesia juga membuat potensi risiko kejahatan siber semakin meningkat.
“Indonesia sendiri kini menjadi target bagi para pelaku kejahatan siber,” tulis unggahan tersebut.
BCA pastikan data nasabah aman
Menanggapi isu yang beredar, pihak BCA memastikan bahwa tidak ada kebocoran data dari sistem mereka.
Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan investigasi menyeluruh.
Baca Juga: Bupati Subang hadiri HUT ke-65 Bank BJB, Kang Rey dorong penguatan sinergi ekonomi daerah
“Kami telah melakukan investigasi menyeluruh dan memastikan tidak ada kebocoran data dari sistem BCA,” ujar Hera dalam keterangannya, Jumat 22 Mei 2026.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik terhadap informasi yang belum terverifikasi.
“Dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar. Kami memastikan bahwa data nasabah tetap aman,” tegasnya.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga keamanan data pribadi, terutama saat menggunakan layanan digital perbankan.***
Artikel Terkait
Usai kebocoran 6 juta NPWP, Kominfo langsung tingkatkan mitigasi
PPATK tegaskan pemblokiran rekening dormant untuk lindungi hak nasabah
Bank nasional dan daerah pastikan dana nasabah aman di tengah penataan rekening dormant
Aplikasi Byond BSI error, nasabah keluhkan transaksi tertahan hingga pilih tutup rekening
Ingar dugaan RDN BCA jebol Rp70 miliar, pernah terjadi kasus serupa saat rekening nasabah raib di area tanpa sinyal
BCA Mobile dan myBCA error di senin pagi, nasabah keluhkan aktivitas terganggu
Skandal korupsi penyaluran KPR di BTN Karawang, 481 debitur diduga terlibat praktik 'pinjam nama' hingga manipulasi data