Hanya dalam 3 bulan, ada misteri kematian 3 dokter yang kini hebohkan jagat medsos dengan isu bullying di baliknya

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Kamis, 9 Juli 2026 | 14:53 WIB
Menyoroti fakta di balik viralnya dugaan perundungan yang dialami dr Adrian Rantung yang masuk daftar skandal kematian tenaga kesehatan di Indonesia (Dok. Istimewa)
Menyoroti fakta di balik viralnya dugaan perundungan yang dialami dr Adrian Rantung yang masuk daftar skandal kematian tenaga kesehatan di Indonesia (Dok. Istimewa)

GENMILENIAL.ID – Rabu, 8 Juli 2026, jagat media sosial kembali dihebohkan dengan kabar meninggalnya seorang dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), dr. Adrian Rantung, di Manado.

Dokter muda yang sempat menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Anestesiologi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) itu ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya pada Minggu, 5 Juli 2026.

Kabar tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu duka sekaligus keprihatinan dari berbagai kalangan.

Kematian dr. Adrian memunculkan dugaan kuat adanya tekanan berat selama menjalani pendidikan.

Baca Juga: Kabar wafatnya dr. Adrian Rantung picu sorotan di medsos, akankah penyebab kematian dokter PPDS Manado itu diusut tuntas?

Selain itu, isu perundungan atau bullying di lingkungan akademik kedokteran kembali menjadi sorotan publik.

Menindaklanjuti kasus ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara aktivitas pendidikan PPDS Anestesiologi di RSUP Kandou sebagai bagian dari proses investigasi.

Investigasi Kemenkes masih berjalan

Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, menegaskan bahwa proses pemeriksaan masih berlangsung dan dilakukan secara menyeluruh terhadap berbagai aspek.

“Sementara investigasi itu berjalan, kegiatan pendidikan prodi anestesi di RS Kandou dihentikan sementara,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu 8 Juli 2026. 

Baca Juga: Rekam jejak Jampidsus Febrie Adriansyah yang rumahnya dijaga TNI: Pernah tangani kasus korupsi Jiwasraya hingga Asabri

Ia menjelaskan bahwa penghentian ini hanya berlaku pada aktivitas pendidikan di rumah sakit, bukan pembekuan program studi secara keseluruhan.

“Yang dihentikan hanya kegiatan pendidikannya, bukan prodinya. Aktivitas PPDS di RS Kandou akan dibuka kembali setelah ada hasil investigasi tim terhadap kasus tersebut,” tambahnya.

Tim investigasi saat ini menelusuri beban kerja korban, rekam jejak digital, hingga kemungkinan adanya tekanan dari pihak senior atau konsulen selama proses pendidikan berlangsung.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X