Perbedaan harga yang mencolok membuat sebagian warga Takengon memilih berjalan kaki menuju Bener Meriah demi mendapatkan sembako dengan harga lebih terjangkau.
Baca Juga: IGD RSUD Subang penuh, Bupati turun langsung cari solusi dan dorong pelayanan lebih 'Ngabret'
Jalur yang dilalui pun bukan tanpa risiko, karena warga harus melewati medan bekas longsoran yang licin dan berlumpur.
Dalam sehari, warga harus menempuh perjalanan pulang-pergi hingga 5 jam.
Waktu tempuh ke Bener Meriah sekitar dua jam, sementara perjalanan pulang memakan waktu lebih lama karena membawa barang belanjaan.
“Perginya dua jam, pulangnya tiga jam karena bawa barang. Lima jam pulang-pergi, setiap hari kalau saya,” ungkapnya.
Akses terputus tekan aktivitas ekonomi warga
Tak hanya membeli kebutuhan pokok, sebagian warga juga membawa hasil panen seperti buah nanas untuk dijual atau ditawarkan kepada orang-orang yang ditemui di perjalanan.
Hal ini dilakukan sebagai upaya bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tertekan akibat akses transportasi yang terputus.
Warga berharap perbaikan jalan dapat segera diselesaikan agar aktivitas ekonomi kembali normal dan harga kebutuhan pokok bisa stabil.
“Mudah-mudahan cepat selesai jalannya,” ucap warga tersebut.
Perbaikan akses terus diupayakan
Saat ini, pemerintah dan pihak terkait terus melakukan perbaikan akses menuju Takengon.
Artikel Terkait
Di tengah banjir Aceh Tamiang, kisah ayah selamatkan kucing peliharaan ini bikin haru warganet
Sawah dan rumah hancur, begini kondisi Garoga Tapsel tiga pekan setelah dihantam banjir bandang kayu gelondongan
Mantan Ketum PB IDI ingatkan pelayanan kesehatan di posko pengungsi banjir Sumatera: Harus cepat ditolong tanpa rujukan RS
Tak hanya fisik, mental penyintas banjir bandang di Aceh Tamiang mulai lelah pascabencana
Momen haru warga Gayo berlarian beri durian untuk TNI usai drop bantuan logistik
Sebulan pascabanjir, akses Syiah Utama Bener Meriah masih terputus, jembatan darurat berbahaya untuk logistik
Sebulan berlalu, warga Aceh Tamiang ceritakan detik-detik 18 orang bertahan di atap rumah saat banjir datang