Melihat kondisi mereka, relawan akhirnya membawakan kasur, bantal, pampers, susu, serta perlengkapan lain yang memang dibutuhkan keluarga itu.
Baca Juga: Darurat air bersih Aceh Tamiang: Warga bertahan 15 hari konsumsi air menghijau bekas pabrik sawit
Ibu-ibu malu ambil banyak logistik
Unggahan lain dari akun yang sama juga memperlihatkan sikap serupa dari para ibu penyintas banjir.
Dalam video tersebut, seorang ibu mengaku sebenarnya bantuan yang ia ambil belum mencukupi, namun merasa sungkan untuk meminta lebih.
“Nggak cukup sebenarnya, tapi malu ngambilnya,” ujar ibu tersebut saat menerima pampers dari relawan.
Ibu lainnya bahkan hanya berani meminta satu botol air minum, meski persediaan di tempatnya telah habis.
Baca Juga: Kearifan lokal warga Desa Sekumur: Saring air sungai jadi bersih pascabanjir Aceh Tamiang
“Pak, boleh minta minum? Ini namanya ngelunjak, nggak ada minum. Habis minumnya, nggak ada lagi,” katanya lirih.
Para relawan pun berulang kali menegaskan bahwa bantuan tersebut adalah hak para penyintas.
“Ambil lagi, ambil aja nggak apa-apa. Itu semua hak ibu,” ucap relawan dalam video tersebut.
Banjir pujian dari warganet
Sikap para penyintas Aceh Tamiang itu menuai respons luas dari warganet. Dua unggahan tersebut telah ditonton lebih dari satu juta kali dan dipenuhi komentar bernada kagum.
Baca Juga: Pakar nilai peran Seskab Teddy penting redam persepsi negatif penanganan bencana Sumatera
“Jiwa saling menolong mereka kuat sekali, sehat selalu warga Aceh,” tulis salah satu warganet.
Artikel Terkait
Hanya minta selimut dan pampers adik, bocah Aceh Tamiang ini ketuk hati relawan
Cerita ayah di Garoga Tapsel, anaknya yang masih 2 tahun terseret banjir saat sedang menyusu ibunya
Krisis air bersih, warga Desa Sekumur Aceh Tamiang terpaksa gunakan air banjir untuk memasak
Hanya minta sajadah untuk mama, bocah korban banjir Aceh Tamiang ini juga sedih lihat sekolahnya hancur
Kepolosan dua bocah di Tapanuli Tengah ceritakan rumah biru mereka hancur diterjang banjir
Belajar dari Swiss dan Jepang, Ferry Irwandi soroti bahaya gelondongan kayu pascabanjir Sumatera
Air terus naik di tengah malam, warga Bona Lumban Tapteng memohon evakuasi: Kami tidak tahu pergi ke mana