GENMILENIAL.ID — Kelangkaan air bersih pascabanjir bandang yang melanda Aceh Tamiang memaksa warga Desa Sekumur mencari cara bertahan di tengah keterbatasan fasilitas sanitasi.
Di tengah kondisi darurat tersebut, masyarakat setempat menunjukkan kreativitas dengan memanfaatkan alam sebagai sistem penyaring air sungai secara alami.
Inovasi sederhana namun efektif ini dilakukan warga dengan membuat galian khusus di bibir sungai.
Air sungai yang semula keruh tidak diambil langsung, melainkan dibiarkan meresap terlebih dahulu melalui lapisan tanah, pasir, dan bebatuan sebelum terkumpul di lubang galian.
Baca Juga: Pakar nilai peran Seskab Teddy penting redam persepsi negatif penanganan bencana Sumatera
Manfaatkan alam sebagai penyaring air
Kreativitas warga Desa Sekumur terekam dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram @agussalim_84 dan dikutip pada Rabu, 24 Desember 2025.
Dalam tayangan tersebut, terlihat bagaimana sistem penyaringan alami itu bekerja tanpa bantuan alat modern.
“Kami berada di Desa Sekumur, saya terkejut dengan antusias masyarakat di sini,” ujar seorang pria dalam video tersebut, mengungkapkan kekagumannya terhadap inisiatif warga.
Ia menjelaskan bahwa air sungai yang masuk ke galian warga telah melalui proses penyaringan alami oleh lapisan tanah.
Baca Juga: ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik
“Di sini terjadi proses penyaringan alami antara pasir dan bebatuan,” lanjutnya.
Air lebih jernih meski dekat sungai
Menariknya, galian air tersebut hanya berjarak sekitar dua meter dari bibir sungai yang airnya masih berwarna kecokelatan akibat banjir.
Artikel Terkait
Krisis air bersih pascabanjir, warga Aceh Tamiang terpaksa gunakan air sumur keruh demi bertahan hidup
Perjuangan relawan tembus jalur putus di Bener Meriah demi antar logistik korban banjir: Sedih lihat warga jalan kaki cari makan
Malam mencekam di Kota Lintang Bawah Aceh Tamiang: Warga tidur di atas balok kayu dan minum air lumpur demi bertahan hidup
Modal lampu mobil, warga Desa Pematang Durian Aceh Tamiang gotong royong buka akses jembatan tertimbun lumpur
Bermalam di hutan hingga makan ubi mentah, kisah pilu ibu di Tapanuli Tengah bertahan hidup saat longsor menerjang
Hanya minta selimut dan pampers adik, bocah Aceh Tamiang ini ketuk hati relawan
Cerita ayah di Garoga Tapsel, anaknya yang masih 2 tahun terseret banjir saat sedang menyusu ibunya