Secara finansial, Dr. Harris menilai proyek ini mengandung fiscal illusion, di mana biaya besar ditutupi narasi bahwa proyek tidak memakai APBN. Padahal, risiko akhirnya tetap ditanggung negara melalui BUMN.
“KAI kini menanggung utang besar kepada CDB, sementara arus kas negatif. Narasi bahwa negara tidak menanggung kerugian hanyalah ilusi fiskal,” tegasnya.
Legasi yang harus dievaluasi
Dr. Harris menegaskan bahwa Whoosh bukan hanya proyek transportasi, melainkan cermin cara negara mengambil keputusan strategis.
“Pembangunan seharusnya tidak diukur dari seberapa cepat diresmikan, tapi dari keberlanjutan ekonomi dan manfaat sosialnya,” tulisnya.
Ia berharap proyek seperti ini menjadi pelajaran bagi pemerintahan berikutnya agar megaproyek ke depan dilakukan dengan transparansi penuh, audit independen, dan keterlibatan publik.
“Keberanian membangun harus disertai keberanian berpikir rasional di tengah tekanan politik,” pungkas Dr. Harris Turino Kurniawan.***