“Banyak akademisi, sejarawan, bahkan PBB menegaskan praktik Israel memiliki ciri kolonial pemukim, perampasan tanah, pemindahan paksa, diskriminasi struktural, dan upaya menghapus identitas Palestina," ujarnya.
Baca Juga: 352 Siswa keracunan massal di Bandung Barat, Dedi Mulyadi janji evaluasi program MBG
"Menganggap semua kritik sebagai dukungan terorisme hanya mengaburkan isu utama, pelanggaran HAM dan keadilan bagi rakyat Palestina,” tambahnya.
Pentingnya kritik dunia internasional
Bagi Yanuardi, kritik atas narasi 'Israel bukan negara kolonial pemukim' tidak semata membela Palestina, tetapi menegakkan prinsip keadilan universal.
“Identitas dan tanah adalah hasil relasi sosial-historis panjang, bukan sekadar klaim mitos untuk membenarkan penindasan. Dunia internasional harus kritis terhadap narasi yang menutupi kolonialisme dengan bungkus sejarah suci sejak Zaman Perunggu,” pungkasnya.***
Artikel Terkait
Ribuan warga padati Aksi Bela Palestina di Subang, donasi terkumpul capai Rp1,14 miliar dan logam mulia
Bupati Subang tegaskan dukungan total untuk Palestina: Subang tidak diam!
Konflik Iran-Israel dan dinamika baru Timur Tengah: Perspektif Yanuardi Syukur, peneliti UI
Iran, obor sains Islam yang terus menyala: Perspektif Yanuardi Syukur soal kejayaan intelektual negeri para Mullah
142 Negara dukung Palestina merdeka, akar konflik Israel sejak 1947 kembali jadi sorotan
Empat negara barat akui Palestina, Netanyahu murka: Tak akan ada negara Palestina di barat Yordan
Pengakuan Palestina oleh Inggris dan sekutunya picu ancaman aneksasi Israel, jadi harapan baru perdamaian