Baca Juga: Sri Mulyani tegaskan kebijakan Prabowo: PPN tidak naik!
Ketika keluarga menempatkan perempuan, laki-laki dan anak-anak pada satu lingkup yang adil, pada saat itu sebenarnya sudah memberikan pendidikan gender.
Sebab, tidak mungkin akan ada perempuan yang jadi aktivis, dokter, guru, politisi, dan profesi lainnya kalau kemudian tidak didukung oleh lingkungan yang genderist.
Keluarga merupakan sentral yang pertama untuk menjinakkan budaya patriarki, artinya memberikan porsi yang sesungguhnya kepada perempuan termasuk berperan untuk lingkungan hidup.
“Sehingga di tahun 2025, ketika kita memperbaiki relasi antara perempuan dan laki-laki, terhadap lingkungan hidup, menjadi satu langkah terdepan supaya lingkungan hidup tetap lestari bersama perempuan dan laki-laki dalam satu bingkai yang agamis,” kata Indah.
Baca Juga: Prabowo disambut antusias masyarakat usai umumkan PPN 12 persen hanya untuk barang mewah
Kemudian Peneliti Hukum CELIOS, Muhammad Saleh memberikan catatan dengan menjawab dua pertanyaan yang disampaikan di awal materinya.
Pertama, bagaimana kualitas hukum negara kita hari ini, yang menurutnya tidak berubah malah justru mengalami penurunan.
Dalam sebuah studi, kata Muhammad Saleh, Indonesia disebut beranjak dari negara demokrasi menjadi non-demokrasi atau ada kecenderungan terjadi autocratic legalism.
Ia menjelaskan bahwa autocratic legalism artinya pemimpin punya kewenangan mutlak dalam pengambilan keputusan tanpa melibatkan bawahan. Dimana perbuatan-perbuatan autocratic ini dilegalkan dalam bentuk hukum.
Baca Juga: PPN 12 persen berlaku hanya untuk barang mewah, Prabowo: Komitmen kita selalu pro rakyat
Pertanyaan yang kedua, variabel apa yang paling banyak menentukan proses penegakan hukum dan berjalannya hukum di Indonesia.
Ternyata, Indonesia masih terlalu dominan di dalam sektor bisnis, khususnya bisnis ekstraktif macam tambang dan sawit.
Hal ini dikarenakan masalah bisnis ini menimbulkan banyak persoalan hukum, seperti ketimpangan, masalah lingkungan hidup, praktik politik dinasti, dan praktik politik yang tidak akuntabel transparan.
Ini membuat Indonesia agak mirip dengan sebuah tesis yang dikeluarkan Daron Acemoglu dan James A. Robinson berjudul 'Why Nations Fail?' dimana intinya adalah kenapa sebuah negara bisa gagal apabila tidak mampu mengelola institusi ekonominya secara inklusif.
Artikel Terkait
Pemuda Muhammadiyah Subang gelar silaturahim kebangsaan, Ketua PDM soroti tantangan Subang ke depan jauh lebih berat
Ketua Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, Reza Arfah maju mencalonkan diri menjadi Walikota Bandung
Pemuda Muhammadiyah Subang turut berbela sungkawa atas kecelakaan bus pariwisata di Ciater dan sampaikan pesan ini pada pemerintah!
Pemuda Muhammadiyah Subang soroti maraknya peredaran narkoba dan apresiasi Polres Subang yang gencar lakukan pemberantasan narkoba
Berasal dari iuran anggota, Pemuda Muhammadiyah Subang dirikan amal usaha peternakan sapi
Pilkada 2024, ini harapan Pemuda Muhammadiyah terkait kepemimpinan Subang kedepan, isu kesenjangan dan keadilan sosial masih faktor utama
Kolaborasi dengan BPDPKS, PW Pemuda Muhammadiyah Aceh gelar Workshop UKMK Sawit Goes To Campus di UNMUHA, ini peluang dan produk yang sudah dihasilkan