Rating Bank BJB turun, pemegang saham daerah perlu perketat pengawasan kredit

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Minggu, 13 September 2026 | 19:59 WIB
Logo Bank BJB terpampang di kantor perseroan di Banten. PEFINDO menurunkan peringkat Bank BJB dari idAA menjadi idAA- seiring tekanan terhadap kualitas aset dan kenaikan rasio kredit bermasalah (Dok. Bank BJB)
Logo Bank BJB terpampang di kantor perseroan di Banten. PEFINDO menurunkan peringkat Bank BJB dari idAA menjadi idAA- seiring tekanan terhadap kualitas aset dan kenaikan rasio kredit bermasalah (Dok. Bank BJB)

Kenaikan juga terjadi pada kredit dalam perhatian khusus atau special mention loans. Rasio tersebut meningkat dari 2,7 persen pada akhir 2024 menjadi 3,8 persen pada akhir 2025 dan 4,3 persen pada Juni 2026.

Di sisi lain, cakupan pencadangan terhadap NPL turun dari 91,6 persen pada akhir 2025 menjadi 85,8 persen pada Juni 2026.

Perkembangan tersebut menimbulkan kebutuhan untuk melihat lebih jauh efektivitas pemberian kredit, pemantauan debitur, penanganan kredit bermasalah hingga penerapan manajemen risiko di lingkungan Bank BJB.

Hal itu menjadi penting karena Bank BJB memiliki pasar captive yang kuat di Jawa Barat dan Banten.

Baca Juga: Kanaya Whulan, vokalis Emka 9 bentukan Dedi Mulyadi meninggal dunia di RSHS Bandung

Perseroan berada dalam ekosistem pemerintah daerah, mengelola berbagai transaksi daerah dan memiliki basis nasabah dari lingkungan aparatur sipil negara.

Keunggulan tersebut semestinya menjadi salah satu fondasi bagi Bank BJB untuk menjaga pertumbuhan sekaligus kualitas kredit.

Kredit produktif jadi salah satu perhatian

PEFINDO menyebut pelemahan kemampuan pembayaran terutama terjadi pada debitur segmen kredit produktif.

Tekanan tersebut diperkirakan dipengaruhi oleh penurunan transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah serta kondisi usaha debitur.

Baca Juga: Kapal Virgo Transport 8 hilang kontak, pencarian 243 penumpang dengan kapal TNI AL hingga jalur udara

Berdasarkan laporan keuangan Bank BJB per 31 Maret 2026 yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, nilai kredit bermasalah konsolidasian tercatat sekitar Rp3,81 triliun.

Kredit bermasalah terbesar tercatat pada kategori lain-lain dengan nilai sekitar Rp1,32 triliun. Berikutnya, sektor perdagangan mencapai Rp1,11 triliun, industri Rp651,53 miliar dan konstruksi Rp419,74 miliar.

Untuk menangani kredit bermasalah, Bank BJB merencanakan penghapusbukuan atau write-off kredit sebesar Rp814 miliar pada 2026.

Perseroan juga memperkirakan pemulihan kredit bermasalah sekitar Rp280 miliar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X