Ramadan 2026 di tenda pengungsian Aceh Tamiang, ibu ini ingin ajarkan anak puasa di tengah panas dan keterbatasan

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Selasa, 17 Februari 2026 | 23:02 WIB
Cerita warga Aceh Tamiang menyambut puasa Ramadan di tahun 2026 (Internet/linggg.pdf)
Cerita warga Aceh Tamiang menyambut puasa Ramadan di tahun 2026 (Internet/linggg.pdf)

Minta doa dan ketabahan

Dalam video berdurasi sekitar 37 detik tersebut, ibu itu juga memohon doa dari masyarakat agar ia dan keluarga diberi kekuatan menjalani Ramadan di pengungsian.

Baca Juga: Peluk boneka orang utan pengganti induknya, kisah bayi monyet punch di Jepang bikin haru

“Tapi ya begini, Insya Allah lah. Minta doa dari semua yang ada, yang melihat ini. Kami minta doa untuk berikan kami kesabaran dan ketabahan. Kesehatan terutama untuk menyambut bulan Ramadan,” paparnya.

Kondisi pengungsian yang panas pada siang hari serta keterbatasan fasilitas membuat warga harus beradaptasi ekstra, terutama bagi anak-anak yang baru belajar berpuasa.

Harapan dapur umum saat Ramadan

Sementara itu, dalam unggahan lain dari akun Instagram @adjie.apk pada Jumat, 13 Februari 2026, seorang warga Aceh Tamiang lainnya juga menyuarakan harapan agar dapur umum tetap tersedia selama Ramadan.

Baca Juga: Dipulangkan ke Malaysia usai 18 tahun menikah di Lombok, Norida Akmal Ayob sempat bertahan hidup jadi penyapu jalan

“Kita mengharapkan dapur umum. Kalau ingat itu, kami nggak sanggup,” ujarnya sambil terisak.

Seiring waktu, sejumlah relawan mulai meninggalkan lokasi dan beberapa warga kembali ke rumah kerabat.

Dampaknya, dapur umum yang sebelumnya membantu kebutuhan makan harian korban bencana mulai berkurang bahkan tutup.

Kondisi ini membuat persiapan sahur dan berbuka menjadi tantangan baru.

Baca Juga: Istri derita tumor mata, rumah nyaris ambruk: Perjuangan Ayan di Subang bikin hati tersayat

Tanpa kulkas dan fasilitas penyimpanan, warga harus memasak dalam waktu singkat agar bahan makanan tidak cepat membusuk.

Ramadan tahun ini pun menjadi ujian kesabaran tersendiri bagi warga Aceh Tamiang, yang tak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga berjuang di tengah keterbatasan pascabencana.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X