GENMILENIAL.ID – Hampir tiga bulan berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025, namun trauma masih membekas di benak para penyintas.
Bencana besar tersebut tak hanya menyebabkan kerusakan parah di sejumlah pedesaan, tetapi juga menelan ribuan korban jiwa.
Dampaknya bahkan meluas hingga ke beberapa wilayah di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Kini, ketakutan itu masih terasa setiap kali hujan turun.
Baca Juga: Viral fenomena Rocadoh di mall, rombongan pencari jodoh jadi tren baru di pusat belanja
Dalam unggahan Instagram @masjidnurulashri pada Senin, 16 Februari 2026, disebutkan bahwa sebagian warga Aceh Tamiang masih berlarian menuju masjid saat hujan mengguyur sebagai upaya menyelamatkan diri.
“Di Aceh Tamiang, jangankan berpikir makan apa esok hari, kebanyakan warga di sini kalau hujan masih lari ke masjid,” tulis akun tersebut.
“Kalau hujan turun sedikit saja, warga di sini langsung was-was, masih banyak yang harus mengungsi ke masjid, numpang aman semalaman,” lanjutnya.
Baca Juga: Banjir landa 9 kecamatan di Grobogan, warga ungkap air hampir atap dan minta dievakuasi
Hujan jadi pemicu ketakutan
Banjir bandang yang terjadi beberapa bulan lalu meninggalkan luka mendalam. Hujan yang seharusnya menjadi bagian dari siklus alam kini justru memicu kecemasan.
Sebagian warga disebut belum sepenuhnya pulih secara psikologis. Setiap rintik hujan mengingatkan mereka pada derasnya arus air dan material longsor yang pernah menghantam permukiman.
Masjid menjadi tempat yang dianggap lebih aman dan kokoh untuk berlindung sementara, terutama bagi warga yang rumahnya rusak atau masih dalam tahap perbaikan.
Baca Juga: Relawan di Aceh Utara haru dapat sekantong jeruk nipis dari warga Geudumbak yang masih mengungsi
Artikel Terkait
Bertahan 12 hari di rooftop saat banjir Aceh Tamiang, kisah warga saling jaga dan saling bantu
Sempat viral di medsos, cerita warga Aceh Tamiang bertahan di SPBU saat banjir bandang: Enam hari tanpa makan
Sempat trauma usai bencana, ibu suarni di Aceh Tengah menangis saat kembali ke area rumahnya yang hilang tersapu longsor
Meski terendam lumpur dan berbau, warga Aceh Tamiang pilah gabah pascabanjir untuk bertahan hidup
Gelondongan kayu bekas banjir terbakar di Aceh Utara saat dini hari, warga berhamburan ke lokasi
Jembatan apung di Sawang Aceh Utara hampir rampung, warga tak perlu bayar Rp20 ribu naik getek lagi
Relawan di Aceh Utara haru dapat sekantong jeruk nipis dari warga Geudumbak yang masih mengungsi