“Dia bilang, ‘Dok, boleh tolong ke rumah? Ibu saya sakit,’” tutur Ilham. Ia pun mendatangi rumah relawan tersebut bersama satu anggota tim.
Setelah dilakukan pemeriksaan, kondisi sang ibu diketahui cukup serius.
Riwayat hipertensi, pembengkakan, hingga sesak napas membuat Ilham menyarankan agar pasien segera dibawa ke rumah sakit.
Namun, di perjalanan menuju fasilitas medis, kondisi sang ibu terus menurun hingga akhirnya tak sadarkan diri.
Kehilangan ibu, namun tetap memikirkan korban bencana
Setibanya di Instalasi Gawat Darurat (IGD), sang ibu dinyatakan meninggal dunia.
Dokter Ilham dan tim memutuskan untuk membatalkan agenda distribusi bantuan demi fokus mendampingi relawan tersebut dan keluarganya.
Baca Juga: Akses darat terputus pascabanjir, guru di Aceh tengah uji nyali seberangi sungai demi tetap mengajar
Namun, hal yang justru mengguncang batin Ilham terjadi pada malam harinya, seusai tahlilan. Relawan itu mendatangi Ilham dan bertanya tentang kelanjutan penyaluran bantuan.
“Dia bilang, ‘Dok, besok kita ke mana? Bantuan mau disalurkan ke mana lagi?’ Padahal yang sedang berduka itu dia,” ungkap Ilham.
Bagi Ilham, momen itu menjadi tamparan kemanusiaan. Di tengah kehilangan seorang ibu, relawan tersebut masih memikirkan nasib warga lain yang membutuhkan uluran tangan.
Tuai apresiasi warganet
Unggahan tersebut sontak menuai respons positif dari warganet. Banyak yang menilai kisah itu sebagai potret ketulusan dan keteguhan hati relawan di tengah bencana.
Baca Juga: Lima tahun berdiri, IFG Corporate University raih akreditasi global EFMD CLIP
Artikel Terkait
Bukan Rp150 juta, warga Aceh Timur buktikan sumur bor pascabanjir bisa dibuat Rp15 juta
Di balik lezatnya durian ketol Aceh, ada perjuangan warga lewati jembatan putus pascabanjir
Tanpa seragam pascabanjir, anak-anak Aceh Tamiang tetap semangat jalani hari pertama sekolah
Tali sling jadi akses hidup warga Ketol Aceh Tengah, sejumlah desa masih terisolir 40 hari pascabanjir
'Saya mau pulang ke mana?' Pilu warga Pidie Jaya usai rumah hancur diterjang banjir dan bantuan hilang
Meski di wilayah kota, warga Aceh Tamiang mengaku krisis air minum pascabanjir
Rakit jadi satu-satunya akses, relawan bidan nyaris terseret arus Sungai Kala Ili Aceh Tengah